Moody's Revisi Outlook Indonesia, Pemerintah Tegaskan Kebijakan Mampu Jawab Kekhawatiran

 

Moody's Revisi Outlook Indonesia, Pemerintah Tegaskan Kebijakan Mampu Jawab Kekhawatiran

Pada 5 Februari 2026, Moody's Investors Service menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif, meski mempertahankan rating Baa2. Pemerintah merespons dengan menegaskan bahwa kebijakan fiskal dan moneter tetap pruden untuk menjaga stabilitas makroekonomi.

Alasan Revisi Moody's

Moody's menyoroti penurunan prediktabilitas kebijakan pemerintah yang berisiko melemahkan tata kelola dan efektivitas pengelolaan fiskal. 

Faktor pemicu meliputi volatilitas pasar saham serta valuta asing, ditambah program seperti Makan Bergizi Gratis dan pembentukan Danantara yang dinilai menambah ketidakpastian. Meski begitu, afirmasi Baa2 mencerminkan ketahanan ekonomi dengan pertumbuhan 5% dan defisit fiskal di bawah 3%.

Respons Pemerintah

Kementerian Keuangan mengapresiasi penilaian Moody's atas fundamental kuat Indonesia sambil menekankan transformasi ekonomi yang sedang berjalan. 

Pertumbuhan kuartal IV-2025 sebesar 5,39% menunjukkan perbaikan konsumsi rumah tangga dan investasi, yang menjadi bukti kepercayaan investor. Pemerintah optimis kebijakan adaptif akan menjawab kekhawatiran tersebut tanpa mengganggu stabilitas.

Dampak Pasar dan Sektor

Revisi outlook memicu penurunan outlook tujuh emiten besar seperti Indofood CBP, United Tractors, dan Pertamina menjadi negatif. 

Namun, Bank Indonesia menegaskan fundamental sektor keuangan tetap solid, dengan pertumbuhan ekonomi diproyeksi stabil di 5,11% sepanjang 2025. Investor diimbau pantau perkembangan kebijakan fiskal untuk antisipasi volatilitas.

Aspek

Status Sebelumnya

Status Baru

Alasan Utama

Rating

Baa2

Baa2 (Dipertahankan)

Ketahanan Ekonomi

Outlook

Stabil

Negatif

Prediktabilitas Kebijakan

Pertumbuhan Ekonomi

5%+

5% (Proyeksi)

Stabil Meski Risiko


Catatan: Data berdasarkan rilis Moody's 5 Februari 2026.

Previous Post