MSCI dan Moody's Tekan IHSG: Pasar Saham Butuh Fondasi Kuat

MSCI dan Moody's Tekan IHSG: Pasar Saham Butuh Fondasi Kuat
MSCI dan Moody's baru-baru ini memberikan sinyal negatif terhadap pasar modal Indonesia, menyebabkan tekanan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pasar saham Indonesia membutuhkan fondasi yang lebih kuat seperti transparansi dan kepastian kebijakan untuk pulih.

Keputusan MSCI

MSCI mengumumkan interim freeze pada akhir Januari 2026 untuk saham Indonesia di indeksnya, terkait isu free float rendah dan aksesibilitas pasar yang belum memenuhi standar global. Hal ini memicu penurunan IHSG hingga 6,8% pada 28 Januari, dengan kekhawatiran potensi degradasi dari Emerging ke Frontier Market.

Regulator seperti OJK dan BEI sedang berupaya meningkatkan free float minimal 15% melalui komunikasi intensif dengan MSCI.

Penurunan Outlook Moody's

Pada awal Februari 2026, Moody's mempertahankan rating kredit Indonesia di Baa2 tapi mengubah outlook dari stabil menjadi negatif, karena kekhawatiran atas kepastian kebijakan pemerintah, tata kelola, dan risiko fiskal di tengah transisi.

Meski begitu, fundamental ekonomi tetap solid dengan pertumbuhan 5,1% pada 2025 dan inflasi 2,92%.

Dampak pada IHSG

IHSG mengalami volatilitas tinggi, turun 0,31% ke 8.265 pada 12 Februari 2026, dengan tekanan pada saham blue chip seperti ASII, BRPT, dan BBCA akibat outflow investor asing.

Dampak lebih kuat pada obligasi dan rupiah, tapi pasar saham diprediksi tidak seburuk reaksi MSCI sebelumnya; support di 8.021, resistance 8.134.

Fondasi yang Dibutuhkan

Pasar butuh perbaikan tata kelola, transparansi kebijakan, dan peningkatan free float untuk menjaga status Emerging Market serta tarik investor.

Investor disarankan fokus saham fundamental kuat seperti perbankan (BBCA, BBRI, BNGA) menjelang dividen.

Next Post Previous Post