Ngebut di Awal Tahun, Realisasi Penerimaan Pajak Januari 2026 Melesat 30%
Realisasi penerimaan pajak Indonesia di Januari 2026 menunjukkan akselerasi impresif dengan pertumbuhan hingga 30% secara year-on-year, mencerminkan momentum positif pemulihan ekonomi pasca-reformasi fiskal.
Detail Realisasi
Penerimaan pajak mencapai Rp116,2 triliun, melonjak dari Rp88,9 triliun pada Januari 2025, atau kenaikan 30,8%. Direktorat Jenderal Pajak (DJP) mencatat penerimaan bruto naik 7% menjadi Rp147,6 triliun, sementara restitusi pajak turun signifikan 23% ke Rp31,4 triliun, yang berkontribusi besar pada neto yang lebih tinggi. Komponen utama meliputi Pajak Penghasilan (PPh) dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN), didorong oleh peningkatan kepatuhan wajib pajak korporasi dan konsumsi masyarakat.
Faktor Pendorong
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyoroti "ekonomi lagi bagus" sebagai pemicu utama, dengan indikator seperti pertumbuhan PDB kuartal IV 2025 yang solid dan kebijakan insentif pajak yang efektif. Reformasi digitalisasi DJP, seperti e-Filing dan AI monitoring, turut memangkas kebocoran dan mempercepat pemrosesan, sementara penurunan restitusi menandakan pengawasan lebih ketat terhadap klaim berlebih. Secara keseluruhan, ini membalik tren lambat di akhir 2025 menjadi "ngebut di awal tahun".
Perbandingan dengan Target APBN
Angka ini baru 4,9% dari target APBN 2026 senilai Rp2.357,7 triliun (naik 22% dari 2025), atau setara proyeksi Rp2.409 triliun jika momentum berlanjut. Meski masih awal, pemerintah optimistis tembus target berkat proyeksi pertumbuhan ekonomi 5,2% dan pengendalian defisit fiskal di bawah 2,5% PDB. Namun, tantangan seperti fluktuasi harga komoditas global perlu diwaspadai untuk menjaga tren.
Komposisi Penerimaan Lain
Total penerimaan negara mencapai Rp161,5 triliun, didukung PNBP Rp3,7 triliun (naik tipis), tapi Bea Cukai anjlok 14% menjadi Rp22,6 triliun akibat penurunan impor pasca-Lunar New Year dan kompetisi harga. Secara agregat, perpajakan (pajak + cukai) Rp138,9 triliun, tumbuh 20,5% yoy, memberikan ruang napas bagi belanja infrastruktur prioritas seperti IKN dan energi hijau.
Implikasi Ekonomi
Kenaikan ini memperkuat sentimen positif pasar, dengan IHSG diproyeksi rebound dan yield SBN stabil di kisaran 6,5%. Bagi investor ritel seperti di pasar saham Indonesia, ini sinyal APBN lebih sehat, potensial dorong emiten sektor konsumsi dan manufaktur—sesuai minat Anda pada tren investasi. Pemerintah kini fokus percepatan realisasi Februari untuk antisipasi musim mudik yang biasanya picu PPN.

