Presdir BFI Finance Beli 1,18 Juta Saham BFIN, Segini Nilainya
Presdir BFI Finance, Sutadi, baru saja melakukan pembelian signifikan sebanyak 1,18 juta lembar saham BFIN pada tanggal 4 Februari 2026, yang menunjukkan kepercayaan tinggi terhadap prospek perusahaan.
Detail Transaksi Lengkap
Pembelian tersebut dilakukan dengan harga rata-rata Rp705 per saham melalui mekanisme pasar reguler di Bursa Efek Indonesia (BEI). Total nilai transaksi mencapai sekitar Rp833,9 juta (1,18 juta x Rp705), yang merupakan aksi korporasi signifikan dari manajemen puncak. Tujuan pembelian secara eksplisit disebutkan sebagai investasi pribadi murni, tanpa unsur pengambilalihan atau perubahan pengendalian perusahaan, sesuai dengan keterbukaan informasi yang disampaikan ke BEI.
Perkembangan Kepemilikan Saham
Sebelum transaksi ini, Sutadi telah memiliki porsi kepemilikan langsung di BFIN. Setelah pembelian, total saham yang dimilikinya melonjak menjadi sekitar 11,8 juta lembar, atau setara 0,14% dari total saham beredar perusahaan. Ini menjadikannya pemegang saham individu terbesar di antara direksi, yang sering diinterpretasikan pasar sebagai sinyal positif mengenai fundamental bisnis BFI Finance.
Konteks Perusahaan BFI Finance
BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) merupakan salah satu perusahaan pembiayaan multiguna terkemuka di Indonesia, dengan fokus pada kredit kendaraan bermotor, alat berat, properti, dan consumer financing. Pada akhir 2025, perusahaan mencatatkan pertumbuhan laba bersih yang solid meski di tengah tekanan suku bunga BI yang tinggi. Aksi buyback saham senilai Rp500 miliar yang dilakukan sepanjang 2025 juga menjadi strategi untuk menstabilkan harga saham di kisaran Rp700-an, mendukung kepercayaan investor.
Performa Saham Terkini
| (Foto Saham BFIN dari Google Finansial) |
Implikasi bagi Investor
Aksi ini bisa menjadi katalis positif jangka pendek untuk BFIN, karena pembelian oleh presdir sering memicu efek bandwagon di kalangan investor lokal. Namun, investor perlu pantau faktor eksternal seperti penurunan suku bunga BI potensial di 2026 dan persaingan ketat dari fintech lending. Secara historis, transaksi serupa dari Sutadi pada November 2025 (1 juta saham senilai Rp772,5 juta) juga sempat dorong kenaikan harga saham hingga 5% dalam seminggu.

