Presiden Trump Ancam Gugat Trevor Noah Buntut Guyonan soal Epstein
Presiden Donald Trump, yang saat ini menjabat setelah terpilih kembali pada November 2024 dan dilantik Januari 2025, mengancam akan menggugat komedian Trevor Noah terkait lelucon kontroversial tentang dirinya dan Jeffrey Epstein selama penampilan di Grammy Awards 2026. Insiden ini memicu perdebatan luas di media sosial dan internasional, termasuk di Indonesia, di mana berita tersebut menjadi viral.
Konteks Lelucon Trevor Noah
Pada 1 Februari 2026, Trevor Noah memandu Grammy Awards dan melontarkan guyonan saat mengumumkan kategori Song of the Year. Ia berkata, "Itu Grammy yang diinginkan setiap artis hampir seperti Trump ingin Greenland, karena pulau Epstein sudah hilang, dia butuh yang baru untuk nongkrong dengan Bill Clinton." Lelucon ini merujuk pada pulau pribadi Little Saint James milik Jeffrey Epstein, miliarder yang tewas di penjara pada 2019 karena kasus perdagangan seks anak di bawah umur.
Noah, mantan host The Daily Show yang dikenal tajam menyindir tokoh politik, tampaknya memanfaatkan momen untuk menyentil Trump yang baru saja kembali berkuasa. Namun, lelucon itu langsung menuai kritik karena dianggap menyinggung dan menghidupkan kembali spekulasi lama tentang hubungan Trump-Epstein, meski Trump telah berulang kali membantah keterlibatannya. Acara Grammy sendiri berlangsung meriah dengan penampilan artis papan atas, tapi momen ini mencuri perhatian.
Respons Marah dari Trump
Tak lama setelah siaran, Trump langsung membalas melalui platform Truth Social-nya. Ia menyebut Noah sebagai "pecundang total, menyedihkan, tidak berbakat, dan bodoh," sambil menegaskan bahwa ia "tidak pernah ke pulau Epstein atau di dekatnya—bahkan media palsu seperti CNN atau MSNBC tak pernah tuduh sebelumnya." Trump menambahkan tuduhan bahwa lelucon itu "pencemaran nama baik" dan berjanji, "Saya akan kirim tim pengacara terbaik untuk gugat dia dan dapatkan banyak uang. Siap-siap Noah, ini akan menyenangkan!"
Sebagai presiden yang vokal di media sosial, respons ini sejalan dengan gaya Trump yang sering mengancam gugatan hukum terhadap kritikus, termasuk selebriti dan jurnalis. Hingga 4 Februari 2026, belum ada gugatan resmi yang diajukan ke pengadilan, tapi pengumuman Trump sudah memicu spekulasi apakah ini serius atau sekadar retorika politik.
Dampak dan Liputan di Indonesia
Berita ini menyebar cepat di media Indonesia seperti Kompas, CNA Indonesia, dan Republika, dengan judul-judul sensasional seperti "Trump Murka Diejek soal Epstein di Panggung Grammy" atau "Trevor Noah Terancam Gugatan Trump Usai Lelucon Pulau Epstein." Liputan lokal menyoroti konteks politik AS pasca-pemilu 2024, di mana Trump kembali ke Gedung Putih dengan basis pendukung kuat. Banyak netizen Indonesia di X (Twitter) dan platform lain ikut berdiskusi, sebagian mendukung Noah karena dianggap satire, sementara yang lain melihatnya sebagai serangan pribadi.
Kasus ini juga mengingatkan pada hubungan Trump-Epstein di masa lalu; keduanya pernah berteman di kalangan elite New York, tapi Trump memutuskan hubungan sekitar 2004 setelah kontroversi Epstein muncul. Dokumen pengadilan Epstein sebelumnya menyebut nama Trump, tapi tanpa bukti keterlibatan ilegal.
Respons Pihak Lain dan Prospek Hukum
Trevor Noah belum memberikan komentar resmi, tapi sumber dekatnya menyebut lelucon itu sebagai "humor politik standar" yang tidak dimaksudkan untuk memfitnah. Grammy organizers juga diam, meski acara tersebut disiarkan luas oleh CBS. Dari sisi hukum, pakar AS meragukan peluang Trump menang karena perlindungan First Amendment terhadap satire dan parodi, mirip kasusnya dengan media lain sebelumnya. Namun, ancaman ini bisa jadi strategi untuk mendominasi narasi media di tengah agenda pemerintahan Trump yang padat, termasuk isu ekonomi dan imigrasi.
Secara keseluruhan, insiden ini mencerminkan polarisasi politik AS yang terus memanas, dengan hiburan dan politik saling silang, sementara publik global termasuk Indonesia menyaksikan dengan antusias.

