Profil Lengkap Saham ARCI: Tambang Emas Unggulan dengan Potensi Undervalued 2026
PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) adalah salah satu produsen emas terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara, beroperasi sebagai pure-play gold miner dengan fokus utama di wilayah Toka Tindung, Gorontalo.
Perusahaan ini menonjol berkat cadangan emas masif lebih dari 3 juta ons, yang mendukung operasi jangka panjang di tengah tren harga emas global yang bullish. Pada 2026, ARCI dipandang undervalued dengan valuasi P/E forward potensial di kisaran 5,5x jika harga emas mencapai $4.750 per ons, jauh di bawah rata-rata industri.
Profil Perusahaan
ARCI mengelola tambang emas Toka Tindung sebagai aset utama, dengan produksi emas mencapai 93.000 ons pada 2024 dan proyeksi naik menjadi 122.000 ons pada 2025.
Perusahaan telah memulai transisi ke underground mining di Pit Kopra, membuka akses ke bijih kadar tinggi di atas 4,0 g/t untuk efisiensi lebih baik daripada open pit. Selain itu, restart pit Araren dan ekspansi pabrik pengolahan mendukung target produksi hingga 213.000 ons pada 2028.
Kinerja Keuangan Terkini
| (Foto Saham ARCI dari Google Finansial) |
|
Tahun |
Produksi Emas (ons) |
CAGR Laba (2026-2029) |
Target Harga (Rp) |
|
2024 |
93.000 |
- |
- |
|
2025 |
122.000 |
- |
1.635 |
|
2028 |
213.000 |
32% |
- |
Strategi Pengembangan Jangka Panjang
ARCI fokus pada pengembangan Araren untuk produksi emas kadar tinggi, dengan grade emas hampir dua kali lipat lebih besar, lebih tebal, dan dangkal dibanding kompetitor.
Operating leverage kuat memungkinkan laba bersih naik 25-30% per kenaikan 10% harga emas, karena biaya tetap. Diversifikasi termasuk peningkatan kapasitas pabrik dan eksplorasi baru memastikan pertumbuhan produksi 18% CAGR hingga 2029.
Potensi Undervalued 2026
Di tengah prediksi emas mencapai $5.000 pada 2026, ARCI disebut "kuda hitam" dengan valuasi murah dan potensi ledakan laba dari underground mining.
Rekomendasi beli di Rp1.650-1.695 per Januari 2026 menunjukkan momentum positif, didorong harga emas rekor $4.597. Investor jangka panjang bisa manfaatkan valuasi rendah ini, meski fluktuasi harga emas dan biaya operasional jadi risiko utama.

