Profil Saham TINS 2026: Lonjakan Laba 176% Didorong Harga Timah & Produksi 45.000 Ton
PT Timah Tbk (TINS), emiten timah pelat merah Indonesia, diproyeksikan mengalami pemulihan kinerja signifikan pada 2026 setelah tekanan produksi di 2025 akibat tambang ilegal dan hambatan ekspor. Analis memprediksi laba bersih TINS melonjak 176% menjadi Rp 2,5 triliun, didorong harga timah global yang solid di kisaran US$ 44.000 per ton dan peningkatan produksi hingga 45.000 ton.
Kinerja 2025: Lonjakan Awal di Q3
Pada kuartal III-2025, TINS mencatat laba bersih Rp 602 miliar, naik dua kali lipat dari semester I-2025 yang Rp 300 miliar, berkat kenaikan harga timah dan volume penjualan meski pendapatan turun 20% YoY menjadi Rp 6,61 triliun. Produksi bijih timah merosot 20% menjadi 12.197 ton dan logam timah 25% menjadi 10.855 ton hingga Q3, tapi strategi ekspor 93% ke pasar global menjaga profitabilitas.
Proyeksi Produksi 2026
| (Foto Saham TINS dari Google Finansial) |
Penggerak Harga Timah Global
Harga timah LME diprediksi bertahan tinggi di US$ 33.000-44.000 per ton pada 2026, naik 30% dari 2025, karena sentimen bullish investor dan demand dari China serta sektor teknologi. Setiap kenaikan US$ 1.000/ton berpotensi dorong pendapatan TINS 2,4%, dengan proyeksi revenue Rp 20,1 triliun (naik 125% YoY).
|
Metrik Keuangan |
2025F (Rp Triliun) |
2026F (Rp Triliun) |
Pertumbuhan YoY |
|
Pendapatan |
8,9-9,0 |
20,1 |
+125% |
|
Laba Bersih |
0,9-1,3 |
2,0-2,5 |
+176% |
|
Produksi (Ton) |
21.500 |
30.000-45.000 |
+40-109% |
Strategi & Prospek Saham
TINS fokus ekspansi produksi, penertiban ilegal, dan utilisasi smelter untuk capai target RKAP 2026, dengan proyeksi laba hingga Rp 2,07-2,5 triliun atau naik 58-206%. Prospek cerah jika harga timah stabil, menjadikan TINS saham menarik di sektor komoditas.

