RI Ekspor Perdana Obat Tylenol Rp 2,4 Miliar ke Korea Selatan
Indonesia baru saja meraih prestasi ekspor perdana obat Tylenol senilai Rp2,4 miliar ke Korea Selatan, menandai kemajuan signifikan industri farmasi nasional. Seremoni pelepasan dilakukan oleh Kementerian Perdagangan pada 13 Februari 2026 di Jakarta.
Latar Belakang Ekspor
PT Integrated Healthcare Indonesia (IHI) mengirimkan 250.000 unit obat pereda nyeri Tylenol ke Korea Selatan melalui fasilitas kawasan berikat Bea Cukai. Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional, Fajarini Puntodewi, menegaskan ekspor ini memperkuat posisi Indonesia di rantai pasok global farmasi. Obat Tylenol diproduksi dengan standar internasional, memenuhi regulasi ketat Korea Selatan sebagai salah satu pasar farmasi terbesar Asia.
Dukungan Kebijakan Pemerintah
Fasilitas kawasan berikat memberikan kemudahan kepabeanan, pembebasan bea masuk bahan baku impor, serta restitusi PPN hingga 100% untuk ekspor. Kepala Seksi Pelayanan Kepabeanan Derry Arifin menyatakan, fasilitas ini memangkas biaya produksi hingga 20-30%, meningkatkan daya saing harga di pasar ekspor. Kebijakan ini bagian dari strategi Kemendag untuk dorong ekspor produk kesehatan bernilai tambah tinggi.
Perkembangan Industri Farmasi RI
Ekspor farmasi Indonesia tumbuh rata-rata 7,63% per tahun selama 2021-2025, dengan Korea Selatan sebagai tujuan utama ketiga (US$75,46 juta atau 10,24% dari total ekspor farmasi 2025). Pada 2025, total ekspor farmasi RI tembus US$736,8 juta, didorong permintaan obat generik dan pereda nyeri pasca-pandemi. Pasar global farmasi diproyeksikan mencapai US$1,53 triliun pada 2030 dengan CAGR 4,74%, membuka peluang besar bagi RI.
Dampak Ekonomi dan Prospek
Ekspor Tylenol ini ciptakan multiplier effect: lapangan kerja baru di sektor manufaktur farmasi, peningkatan devisa negara, serta transfer teknologi produksi. PT IHI berencana ekspansi ke pasar ASEAN dan Eropa pada 2026-2027, targetkan ekspor tahunan Rp10 miliar.
Pemerintah targetkan kontribusi farmasi ke ekspor nonmigas capai 5% pada 2030 melalui hilirisasi dan sertifikasi internasional. Keberhasilan ini jadi momentum bagi UMKM farmasi lokal ikut ekspor dengan dukungan ekosistem serupa.

