Suku Bunga Acuan Tetap 4,7%, Analis Ungkap Dampaknya ke IHSG
Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 4,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) 18-19 Februari 2026. Keputusan ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi dalam koridor 2,5% ±1%, serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional di tengah gejolak global.
Alasan Keputusan BI
BI-Rate tetap di 4,75% merupakan level terendah sejak 2022, setelah penurunan kumulatif 150 bps sejak September 2024. Gubernur BI menekankan komitmen memperkuat transmisi kebijakan moneter sambil membuka peluang pemangkasan lebih lanjut jika data inflasi dan pertumbuhan memungkinkan. Selain BI-Rate, suku bunga Deposit Facility dipertahankan di 3,75% dan Lending Facility di 5,50%, mencerminkan pendekatan hati-hati terhadap risiko eksternal.
Proyeksi BI menunjukkan pertumbuhan PDB 2026 berada di atas titik tengah kisaran 4,6%-5,4%, didukung surplus perdagangan dan stabilitas makroekonomi. Inflasi diprakirakan terkendali, meskipun ada tekanan dari harga komoditas global.
Reaksi Pasar Saham
Pengumuman BI memicu volatilitas di Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada Kamis (19/2/2026), IHSG sempat menguat di sesi pertama namun ditutup negatif akibat tekanan jual sesi kedua. Penutupan Jumat (20/2/2026) sesi pertama, IHSG turun tipis 0,16% ke 8.261,15, dengan 402 saham melemah, 252 menguat, dan nilai transaksi Rp11,3 triliun.
Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai keputusan ini memberi sinyal stabilitas moneter daripada stimulus pertumbuhan jangka pendek. Dampaknya netral terhadap IHSG, meskipun pasar menunjukkan respons mixed karena ekspektasi pemangkasan.
Analisis Dampak ke IHSG
|
Aspek |
Dampak Positif |
Dampak Negatif |
Proyeksi Analis liputan6+2 |
|
Likuiditas |
Stabilitas rupiah dorong aliran dana asing |
Tanpa pemangkasan, kredit ekspansi terhambat |
Netral, potensi ke 8.600-9.000 jika surplus perdagangan kuat |
|
Sektor Perbankan |
Biaya dana stabil, margin tetap aman |
Kurang dorongan kredit konsumsi |
Performa solid, tapi kurang upside |
|
Sektor Riil |
Inflasi terkendali dukung konsumsi |
Pertumbuhan lambat tanpa stimulus |
Menguat jika NPI stabil |
|
Valuasi |
IHSG undervalued di PE 12-13x |
Volatilitas global tekan sentimen |
Target 9.000 terbuka akhir 2026 |
Kebijakan ini selaras dengan dinamika global di mana suku bunga AS dan China memengaruhi arus modal. Investor ritel di Indonesia, termasuk di platform seperti Stockbit, kini pantau data Maret untuk sinyal selanjutnya.

