Tebar Saham Bonus Rp5,87 Triliun, Saham Bank Mega (MEGA) ARA

Tebar Saham Bonus Rp5,87 Triliun, Saham Bank Mega (MEGA) ARA

Bank Mega (MEGA) baru saja menggebrak pasar saham Indonesia dengan pengumuman pembagian saham bonus jumbo senilai Rp5,87 triliun, yang langsung memicu sahamnya auto reject atas (ARA) pada perdagangan Senin, 23 Februari 2026. Pengumuman ini dirilis melalui keterbukaan informasi pada Jumat lalu (20 Februari 2026), menjelaskan rencana stock split berupa bonus saham dengan rasio 1:1 dari kapitalisasi agio saham.

Latar Belakang Pengumuman

Bank Mega, bagian dari grup CT Corp milik Chairul Tanjung, mengusulkan penerbitan 11,74 miliar lembar saham baru dengan nilai nominal Rp500 per saham, sehingga total nilai mencapai Rp5,87 triliun. 

Langkah ini bertujuan untuk memperkuat modal inti (core capital), meningkatkan likuiditas saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), dan membuat harga saham lebih terjangkau bagi investor ritel. Sebelumnya, saham MEGA diperdagangkan di kisaran Rp3.000-an, dan bonus ini diharapkan bisa mendongkrak partisipasi pasar setelah penurunan kinerja sektor perbankan swasta nasional belakangan ini.

Dampak Langsung di Pasar

Tebar Saham Bonus Rp5,87 Triliun, Saham Bank Mega (MEGA) ARA
(Foto Saham Bank MEGA dari Google Finansial)
Pagi ini, tepatnya pada sesi I pukul 09.13 WIB, saham MEGA langsung melonjak 24,77% ke Rp4.130 per saham sebelum menyentuh ARA, menandakan kenaikan signifikan yang memicu pembatasan perdagangan otomatis oleh BEI. 

Respons pasar ini menunjukkan antusiasme investor terhadap strategi Bank Mega yang agresif dalam meningkatkan free float dan daya tarik sahamnya. Hingga siang ini (23 Februari 2026 pukul 16:13 WIB), efek ARA masih berlangsung, dan pemulihan perdagangan bergantung pada aturan BEI pasca-ARA.

Jadwal dan Proses Persetujuan

Rencana ini akan diputuskan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 31 Maret 2026. Jika disetujui, penerbitan saham baru akan dilakukan melalui capitalisasi agio saham, di mana pemegang saham existing berhak atas satu saham bonus per saham yang dimiliki pada cumulative rights index (CRI) atau cum date yang ditentukan kemudian. Bank Mega juga berencana mengajukan pencatatan saham baru di BEI setelahnya, dengan target penyelesaian dalam triwulan II 2026.

Implikasi bagi Investor

Bagi investor seperti Anda yang aktif mengikuti pasar saham dan digital economy Indonesia, bonus saham ini bisa menjadi peluang jangka pendek karena potensi kenaikan harga pasca-pengumuman, meski volatilitas tinggi.

 Namun, perlu dicermati kinerja fundamental Bank Mega: laba bersih 2025 turun dibanding tahun sebelumnya akibat kompetisi ketat di sektor kredit konsumsi dan digital banking. Strategi ini juga selaras dengan tren perbankan nasional yang mendorong inklusi keuangan melalui saham lebih likuid, mirip kasus BMRI atau BBRI sebelumnya. 

Pantau update RUPS dan harga terkini di platform seperti IDX atau Stockbit untuk keputusan investasi.

 

Next Post Previous Post