Video AI Rasis Obama Tuai Kecaman, Presiden Trump Bersikukuh Tak Bersalah

Video AI Rasis Obama Tuai Kecaman, Presiden Trump Bersikukuh Tak Bersalah

Kontroversi video AI rasis yang menampilkan Barack Obama dan Michelle Obama sebagai kera telah menjadi sorotan dunia, memicu kecaman luas terhadap Presiden Donald Trump yang saat ini menjabat setelah terpilih kembali pada November 2024. 

Video berdurasi sekitar 62 detik itu diunggah melalui akun Truth Social milik Trump pada awal Februari 2026, sebelum akhirnya dihapus setelah menuai protes keras dari berbagai kalangan, termasuk politisi Republik dan Demokrat. 

Trump sendiri bersikukuh tidak bersalah, menegaskan bahwa ia tidak melihat bagian kontroversial video tersebut dan menolak meminta maaf.

Latar Belakang dan Isi Video

Video tersebut dimulai dengan diskusi tentang dugaan kecurangan pemilu AS 2020, yang menjadi narasi favorit Trump sejak lama. Namun, bagian akhirnya berubah menjadi konten yang sangat provokatif: menggunakan teknologi AI untuk menempelkan wajah Barack Obama dan istrinya Michelle ke tubuh kera, disertai backsound lagu "The Lion Sleeps Tonight" yang sering dikaitkan dengan stereotip rasis terhadap orang kulit hitam. 

Efek visual ini jelas mengeksploitasi citra dehumanisasi yang telah lama menjadi isu sensitif dalam sejarah rasisme AS. Pengunggahan video ini terjadi di platform Truth Social, yang dimiliki Trump, sehingga tanggung jawabnya langsung tertuju pada timnya atau dirinya sendiri.

Konten semacam ini bukan hanya menyinggung, tapi juga menunjukkan potensi penyalahgunaan AI dalam politik, di mana deepfake bisa dengan mudah memicu perpecahan sosial. 

Di Indonesia, berita ini cepat menyebar melalui media seperti detik.com dan MetroTV, dengan headline dramatis yang mencerminkan kekhawatiran global atas dampaknya terhadap citra kepemimpinan Trump di tahun keduanya menjabat.

Respons Presiden Trump

Dalam wawancara dengan media seperti BBC, Trump mengklaim bahwa ia hanya menonton "bagian awal" video yang membahas pemilu, dan menyalahkan stafnya karena tidak memeriksa keseluruhan isi sebelum diunggah. "Saya tak melakukan kesalahan apa pun," katanya tegas, menolak tuntutan maaf dari lawan politiknya. 

Sikap ini konsisten dengan gaya Trump yang sering kali defensif terhadap tuduhan rasisme, seperti kasus-kasus sebelumnya selama kampanye 2024. Ia bahkan menyebut kritik sebagai "serangan palsu" dari musuh politik. Respons ini justru memperpanjang kontroversi, karena banyak yang mempertanyakan mengapa video semacam itu lolos sensor di timnya yang dikenal loyal.

Reaksi Publik dan Tokoh Politik

Kecaman datang dari berbagai pihak, termasuk dari dalam Partai Republik. Senator Tim Scott, yang merupakan politisi Afrika-Amerika pertama yang maju sebagai calon presiden GOP, menyebutnya sebagai "hal paling rasis yang pernah keluar dari Gedung Putih."

Senator Roger Wicker juga ikut mengutuk, sementara Gubernur California Gavin Newsom dari kubu Demokrat menyerukan akuntabilitas. 

Kelompok hak sipil seperti NAACP menyoroti ini sebagai bukti pola rasisme Trump, sementara analis media sosial mencatat bagaimana video menyebar cepat di YouTube dan Instagram sebelum dihapus. Di luar AS, media India seperti Satya Hindi bahkan membahasnya sebagai kontroversi politik Trump yang kembali memanas.

Di Indonesia, netizen di platform seperti X (Twitter) dan TikTok ramai membahasnya, sering kali membandingkan dengan isu rasisme lokal atau politik polarisasi. Beberapa artikel lokal menekankan risiko AI dalam menyebarkan hoaks, relevan mengingat maraknya deepfake di pemilu Indonesia sebelumnya.

 

Next Post Previous Post