Anabatic Technologies (ATIC) Siapkan Right Issue untuk Tebus Obligasi
PT Anabatic Technologies Tbk (ATIC), emiten teknologi informasi yang berbasis di Indonesia, berencana menggelar penambahan modal dengan memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu atau rights issue untuk memperkuat struktur permodalan dan melunasi kewajiban utang jangka panjang.
Aksi korporasi ini diambil sebagai bagian dari strategi manajemen dalam menjaga likuiditas sekaligus menjaga kelangsungan operasional perusahaan, terutama menjelang jatuh temponya sejumlah obligasi.
Jumlah Saham dan Rasio Rights Issue
Dalam dokumen keterbukaan informasi, Anabatic menyatakan akan menerbitkan sekitar 600 juta saham baru dengan nilai nominal Rp100 per saham. Penerbitan saham tersebut setara dengan sekitar 25,91 persen dari total saham yang telah diterbitkan perseroan.
Berbagai laporan pasar menyebutkan bahwa rencana rights issue ini mengusung rasio 4:1, artinya setiap pemegang 4 saham lama berhak memperoleh 1 HMETD untuk membeli 1 saham baru.
Dana untuk Lunasi Obligasi
Dana hasil rights issue, setelah dikurangi biaya‑biaya terkait aksi korporasi, direncanakan akan diprioritaskan untuk melunasi obligasi yang jatuh tempo pada 11 Juli 2026. Jumlah pokok obligasi yang harus dilunasi disebut mencapai sekitar Rp559,99 miliar.
Dengan posisi kas dan setara kas per 30 September 2025 sekitar Rp445,29 miliar, manajemen menilai perlu menambah sumber pendanaan agar kewajiban bisa terpenuhi tanpa mengandalkan pinjaman baru atau utang tambahan.
Jika masih ada sisa dana, perusahaan akan mengalokasikannya untuk modal kerja dan membiayai kegiatan operasional perseroan.
RUPSLB dan Persetujuan Pemegang Saham
Rencana rights issue ini akan dimintakan persetujuan melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). RUPSLB ATIC yang membahas aksi korporasi ini dilaksanakan pada akhir Maret 2026, di mana sejumlah keputusan tata kelola perusahaan juga diputuskan, termasuk pengunduran diri Ignasius Jonan dari jabatan Presiden Komisaris.
Dalam dokumen keterbukaan informasi, perseroan menyampaikan bahwa apabila seluruh saham baru dalam PMHMETD ini diambil, pemegang saham yang tidak melaksanakan HMETD akan mengalami dilusi kepemilikan hingga maksimal sekitar 7,68 persen.
Respons Pemegang Saham Utama
Salah satu pemegang saham utama Anabatic, TIS Inc., yang memiliki sekitar 37,30 persen saham perseroan, telah mengonfirmasi bahwa mereka tidak akan mengambil bagian dalam rights issue tersebut.
Kondisi ini membuat peluang dilusi bagi pemegang saham lain menjadi lebih terlihat, terutama bagi investor kecil yang menimbang untuk melaksanakan hak membeli saham baru atau memilih menerima potensi penurunan persentase kepemilikan.
Harapan Manajemen ke Depan
Manajemen ATIC menegaskan bahwa rights issue ini diharapkan dapat memperkuat struktur permodalan dan mendukung pengembangan bisnis di tengah upaya perusahaan melanjutkan fase pertumbuhan pasca‑transformasi.
Dengan pelunasan utang jangka panjang, perseroan berharap dapat menjaga tingkat biaya bunga, memperbaiki profil risiko keuangan, dan menjaga momentum operasional di tengah persaingan industri teknologi dan IT services yang semakin ketat.

