Kerugian DOID Membengkak di 2025: Tantangan Ekstrem Sektor Tambang
Kuartal I: Kerugian Melonjak 251%
Pada kuartal pertama 2025, DOID mencatat rugi bersih US$67 juta (Rp1,08 triliun), naik 251% dari US$19,08 juta periode sebelumnya. Pendapatan turun 17% menjadi US$351,88 juta, sementara beban pokok pendapatan mencapai US$375,99 juta akibat banjir dan hujan ekstrem. Aset perusahaan juga menyusut menjadi US$1,57 miliar per Maret 2025.
Semester I: Kerugian Terus Bengkak 179%
Hingga semester pertama, kerugian membesar menjadi US$74,21 juta (Rp1,20 triliun), melonjak 179% year-on-year. Pendapatan usaha terkoreksi 14,5% ke US$730,21 juta, dengan rugi kotor US$13,69 juta karena beban pokok penjualan US$743,90 juta. Arus kas operasi turun 41,93% menjadi US$80,94 juta, meski ada pemulihan di kuartal II.
Faktor Penyebab Utama
Cuaca ekstrem menjadi biang kerok utama, menyebabkan produksi menurun dan biaya operasional melonjak. Fluktuasi harga komoditas batu bara serta beban keuangan tinggi memperparah situasi, dengan liabilitas mencapai US$1,47 miliar per Juni 2025. Total aset stabil di US$1,57 miliar, tapi ekuitas hanya US$100,87 juta.
Dampak ke Saham dan Prospek
Kinerja loyo ini mencerminkan tantangan sektor batu bara di tengah transisi energi global. Investor perlu pantau laporan tahunan lengkap untuk strategi pemulihan DOID, termasuk efisiensi operasional dan diversifikasi. Meski demikian, arus kas bebas positif di kuartal II beri harapan stabilisasi.

