Analisis Kinerja dan Prospek Saham COAL di Tahun 2026

Analisis Kinerja dan Prospek Saham COAL di Tahun 2026
PT Black Diamond Resources Tbk (COAL), emiten pertambangan batubara, mencatat kinerja keuangan yang menurun pada 2025 akibat pelemahan harga komoditas dan biaya operasional tinggi. 

Pada 9M25, pendapatan mencapai Rp241,3 miliar (turun 18,9% YoY), laba bersih Rp31,3 miliar (turun 26,7% YoY), dengan EBITDA Rp78 miliar (turun 13,5% YoY). Valuasi saham per Februari 2026 berada di harga sekitar Rp72, dengan PER 13,51x, PBV 1,06x, ROE 7,95%, dan EPS Rp4,96.

Rasio Keuangan

Nilai (9M25)

Perbandingan YoY

Pendapatan

Rp241,3M

-18,9%

Laba Bersih

Rp31,3M

-26,7%

EBITDA

Rp78M

-13,5%

PBV

1,06x

Di bawah industri

PER

13,51x

Sedikit di atas industri

Harga saham COAL fluktuatif, dengan level sekitar Rp72-Rp80 pada awal 2026, menunjukkan potensi undervalued berdasarkan PBV rendah meski PER relatif tinggi.

Faktor Industri Batubara 2026

Industri batubara Indonesia menghadapi penurunan kuota produksi nasional menjadi 600-700 juta ton pada 2026, turun hingga 24% dari realisasi 790 juta ton di 2025, akibat kebijakan pemerintah ESDM untuk kendalikan suplai.

Harga batubara diproyeksi stabil di US$90-100 per ton, tergantung permintaan China dan India. COAL fokus ekspor ke Vietnam dan China, dengan rencana diversifikasi ke mineral EBT untuk mitigasi risiko transisi energi.

Strategi dan Target Perusahaan

Analisis Kinerja dan Prospek Saham COAL di Tahun 2026
(Foto Saham COAL dari Google Finansial)
COAL menargetkan produksi batubara melebihi 1 juta ton pada 2026 melalui anak usaha, naik dari realisasi 60% target 2025, dengan efisiensi stripping ratio rendah. Belum ada pengumuman dividen signifikan untuk 2025-2026, meski sektor coal umumnya yield 7-10%. Analis melihat potensi upside dari PBV (Rp301-601) jika arus kas membaik, tapi risiko utang dan likuiditas tinggi.

Prospek dan Rekomendasi

Prospek COAL 2026 campuran: positif dari target produksi dan valuasi murah (PBV rendah), tapi tantangan kuota produksi nasional dan volatilitas harga batubara. 

Investor disarankan pantau RKAP 2026 dan kemajuan EBT; buy on weakness untuk jangka menengah jika harga di bawah Rp72. Risiko utama termasuk regulasi ketat dan penurunan permintaan global.

Next Post Previous Post