CPRO Tutup Anak Usaha di Singapura, Saham Nyungsep Nyaris Dua Persen

 

CPRO Tutup Anak Usaha di Singapura, Saham Nyungsep Nyaris Dua Persen

PT Central Proteinaprima Tbk (CPRO), perusahaan pengolahan seafood dan budidaya udang vaname terkemuka di Indonesia, baru saja mengumumkan penutupan salah satu anak usahanya di Singapura melalui proses striking off yang disetujui otoritas setempat. Langkah ini dilakukan karena entitas tersebut tidak pernah menjalankan operasi aktif sejak didirikan, sehingga dianggap tidak lagi relevan secara strategis.

Detail Penutupan Anak Usaha

Anak usaha yang dimaksud kemungkinan terkait dengan Blue Ocean Resources Pte Ltd atau entitas serupa yang pernah menjadi bagian dari ekspansi CPRO ke luar negeri. Proses striking off ini merupakan mekanisme hukum di Singapura untuk membubarkan perusahaan yang tidak aktif, menghindari biaya pemeliharaan tahunan seperti audit dan pelaporan. 

Pengumuman resmi kemungkinan disampaikan melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini, 16 Maret 2026, sebagai upaya restrukturisasi aset non-produktif. Hal ini sejalan dengan upaya CPRO membersihkan neraca keuangan dari entitas "mati" yang hanya membebani administrasi.

Reaksi Pasar Saham

CPRO Tutup Anak Usaha di Singapura, Saham Nyungsep Nyaris Dua Persen
(Foto Saham CPRO dari Aplikasi Stockbit)
Saham CPRO langsung anjlok hampir dua persen usai pengumuman, dengan harga bergerak di rentang Rp52–54 per saham pada perdagangan siang ini. Volume transaksi mencapai sekitar 669 ribu lot, menandakan minat investor yang tinggi meski sentimen negatif mendominasi. 

Penurunan ini memperlemah kapitalisasi pasar CPRO yang sudah tertekan sejak tahun-tahun sebelumnya, di mana saham sempat terbang 32% pada 2023 berkat spekulasi pemulihan, tapi kini kembali volatil akibat isu keuangan berkepanjangan.

Konteks Historis CPRO

CPRO punya sejarah panjang dengan masalah anak usaha Singapura. Pada 2021, perusahaan gagal bayar utang USD162,46 juta dan terpaksa gadaikan saham anak usaha tersebut untuk mitigasi krisis. Ini bagian dari krisis likuiditas yang memaksa restrukturisasi obligasi senilai besar. 

Meski sempat ada pembelian saham oleh investor seperti Surya Hidup Satwa pada 2013 dan perubahan kepemilikan baru-baru ini di 2025, CPRO masih bergulat dengan utang dan efisiensi operasional. Penutupan ini bisa dilihat sebagai langkah positif jangka panjang untuk fokus pada bisnis inti di Indonesia, seperti ekspor udang ke AS dan Eropa.

Implikasi ke Depan

Investor mungkin khawatir ini sinyal pelemahan ekspansi internasional CPRO, tapi analis melihatnya sebagai efisiensi biaya di tengah tekanan ekonomi global 2026.

Perusahaan tetap punya aset kuat di budidaya udang vaname di Jawa Timur dan Sulawesi, dengan potensi rebound jika harga komoditas seafood naik. Pantau keterbukaan informasi BEI selanjutnya untuk update restrukturisasi atau rencana ekspansi baru.

Next Post Previous Post