Darurat Energi, Filipina Rogoh 20 Miliar Peso Untuk Tambah BBM
Filipina mengalokasikan dana darurat sebesar 20 miliar peso (sekitar USD 333 juta atau Rp 5,6 triliun) untuk memperkuat cadangan dan pasokan bahan bakar minyak (BBM), menyusul status darurat energi nasional yang dideklarasikan oleh Presiden Ferdinand Marcos Jr.
Latar belakang darurat energi
Filipina menetapkan darurat energi karena ketergantungan tinggi pada impor minyak dari Timur Tengah, ditambah volatilitas harga akibat konflik Iran–Israel dan tekanan pasokan global. Cadangan BBM nasional saat ini hanya cukup untuk sekitar 45 hari, sehingga pemerintah mempercepat pengadaan stok cadangan.
Untuk apa dana 20 miliar peso?
Dana darurat 20 miliar peso akan digunakan untuk:
Membeli produk bahan bakar (bensin, solar, gas/LPG) dan memperkuat cadangan domestik.
Menjaga kelancaran sektor krusial seperti transportasi, logistik, pertanian, dan tanggap darurat agar tidak terganggu krisis pasokan.
Kebijakan tambahan yang diambil
Selain pengeluaran BBM, pemerintah juga:
Membentuk komite khusus untuk mengawasi distribusi energi dan mencegah penimbunan atau manipulasi pasokan.
Menambah impor minyak dari berbagai negara, termasuk kapal minyak mentah Rusia yang mulai tiba di Filipina sebagai bagian dari upaya diversifikasi sumber.
Jadi, langkah 20 miliar peso ini adalah bagian dari respons terpadu Filipina untuk mengamankan energi dan menstabilkan harga BBM di tengah gejolak pasar global.

