Ekspor Indonesia Januari 2026 Naik 3,39%, di Bawah Perkiraan
Ekspor Indonesia pada Januari 2026 mencapai US$22,16 miliar, naik 3,39% secara year-on-year (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, meskipun pertumbuhan ini berada di bawah ekspektasi analis pasar.
Rincian Pertumbuhan
Kenaikan tersebut terutama didorong oleh ekspor nonmigas yang tumbuh 4,38% menjadi US$21,26 miliar, sementara ekspor migas justru turun 15,62% ke level US$890 juta. Sektor industri pengolahan menyumbang porsi terbesar dengan nilai US$18,51 miliar (naik 8,19% yoy), didukung komoditas unggulan seperti minyak sawit mentah (CPO) yang melonjak 46,05%, nikel (42,04%), serta mesin elektronik (16%).
Faktor Penopang
Peningkatan ekspor nonmigas ini menjadi "bantalan" di tengah pelemahan sektor pertanian (turun 20,36%) dan pertambangan lainnya (14,59%).
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kontribusi kuat dari pengolahan CPO, nikel, dan elektronik sebagai pendorong utama, meskipun harga komoditas global yang fluktuatif menjadi tantangan. Amerika Serikat tetap jadi tujuan ekspor terbesar dengan nilai US$2,82 miliar (naik 13,60% yoy).
Implikasi Neraca Dagang
Meski ekspor tumbuh moderat, neraca perdagangan Indonesia tetap surplus US$0,96 miliar berkat impor yang terkendali di US$21,20 miliar (naik 18,21% yoy).
Surplus ini lebih rendah dari estimasi konsensus, mencerminkan tekanan impor bahan baku dan barang modal yang meningkat untuk mendukung produksi industri. Pertumbuhan ekspor di bawah ekspektasi ini dipengaruhi faktor musiman pasca-libur akhir tahun serta ketidakpastian geopolitik global.

