Harga Minyak Melonjak di Atas US$110 Akibat Perang Iran yang Meningkat
Harga minyak dunia melonjak lebih dari 20% melewati level US$110 per barel karena eskalasi perang Iran yang mengganggu produksi minyak di Teluk Persia. Perusahaan raksasa minyak di kawasan Teluk dipaksa memangkas output akibat serangan dan ancaman terhadap infrastruktur energi utama.
Latar Belakang Konflik
Perang di Timur Tengah tak kunjung mereda setelah serangan AS dan Israel ke Iran. Presiden AS Donald Trump mendorong operasi militer lebih lanjut, termasuk target baru di Iran, sementara Presiden Iran Masoud Pezeshkian bersumpah tak akan mundur. Serangan drone ke lapangan minyak Shaybah Arab Saudi dan penutupan Selat Hormuz memperburuk gangguan pasokan.
Dampak pada Produksi Minyak
| (Foto Harga Minyak Dunia dari oilprice.com) |
Reaksi Pasar Global
Saham Asia anjlok karena kenaikan harga minyak memicu inflasi dan menunda penurunan suku bunga. Emas turun ke US$5.117 per ons saat investor ambil untung untuk tutup kerugian. Dolar AS menguat karena permintaan likuiditas di tengah ketidakpastian.
|
Aspek |
Dampak Utama |
|
Harga Minyak |
Naik 20% > US$110/barel |
|
Saham Asia |
Turun tajam, futures Nikkei -7% |
|
Inflasi Global |
Meningkat, tingkatkan biaya hidup |
|
Emas |
Turun 1% ke US$5.117 |
Proyeksi ke Depan
Bank investasi memperingatkan skenario terburuk dengan gangguan total aliran minyak dan LNG selama tiga bulan, mendorong harga ke puncak baru di kuartal II/2026. Negara Asia seperti Singapura khawatir beban ekonomi dari harga minyak rekor ini.

