Jumlah Nasabah Bank Emas Tembus 5,7 Juta pada 6 Maret 2026

Jumlah Nasabah Bank Emas Tembus 5,7 Juta pada 6 Maret 2026

Minat masyarakat Indonesia terhadap investasi emas melalui bank bullion atau bank emas terus melonjak. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa jumlah nasabah telah mencapai 5,7 juta orang per 6 Maret 2026, naik signifikan dari 3,2 juta nasabah saat layanan ini pertama diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto pada Februari 2025.

Lonjakan Data yang Mengesankan

Data ini disampaikan Airlangga saat menghadiri acara Aksi Kuatkan Literasi dan Inklusi Keuangan di Jakarta. Lonjakan nasabah mencerminkan tingginya kepercayaan publik terhadap emas sebagai instrumen investasi aman di tengah gejolak ekonomi global. Selain itu, pinjaman emas melalui layanan ini telah tembus Rp102 triliun, dengan volume emas tergadaikan mencapai ratusan ton.

Pemain Utama di Sektor Bank Emas

Layanan bank emas saat ini didominasi oleh dua lembaga berizin OJK, yaitu PT Pegadaian dan Bank Syariah Indonesia (BSI). Pegadaian mencatat emas tergadaikan meningkat menjadi 144,7 ton dari sebelumnya 94 ton, sementara pinjaman emas di Pegadaian capai 38,5 ton. Di BSI, volume pinjaman emas menyentuh 22 ton, menunjukkan partisipasi kuat dari sektor perbankan syariah.

Lembaga

Emas Tergadaikan (Ton)

Pinjaman Emas (Ton)

Nilai Pinjaman

Pegadaian

144,7

38,5

Rp102 triliun

BSI

-

22

-

Faktor Pendorong Popularitas Emas

Kenaikan tajam harga emas dunia dari US$3.000 menjadi US$5.000 per troy ounce menjadi pemicu utama. Hal ini dipicu oleh konflik geopolitik di Timur Tengah dan ketidakpastian global, menjadikan emas sebagai "safe haven" favorit. Di dalam negeri, inflasi emas perhiasan mencapai 8,42% month-to-month (mtm) pada Februari 2026, tren yang berlangsung selama 30 bulan berturut-turut.

Airlangga menekankan bahwa demam emas ini juga didorong oleh literasi keuangan yang semakin baik di kalangan masyarakat. "Emas bukan hanya investasi, tapi pilihan aman di masa sulit," ujarnya. Tren ini diprediksi berlanjut seiring ketegangan internasional yang belum mereda.

Next Post Previous Post