Pemerintah Susun Efisiensi Anggaran Jaga Defisit APBN 2026
Pemerintah Indonesia sedang menyusun strategi efisiensi anggaran untuk menjaga defisit APBN 2026 tetap di bawah 3 persen, di tengah tekanan global seperti kenaikan harga minyak dan konflik geopolitik.
Latar Belakang
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaporkan rencana ini kepada Presiden Prabowo Subianto melalui rapat kabinet, dengan fokus mengatasi Anggaran Biaya Tambahan (ABT) kementerian/lembaga (K/L) yang dianggap membengkak. Langkah ini merespons defisit awal tahun sebesar Rp54,6 triliun per Januari 2026, tanpa perlu Instruksi Presiden atau Perppu pelebaran defisit.
Fokus Efisiensi
Efisiensi menargetkan belanja non-prioritas seperti rapat tak esensial, program tambahan yang bisa ditunda, dan operasional rendah dampak terhadap pertumbuhan ekonomi. Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan program unggulan seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap aman, sementara K/L diminta hemat mandiri atau diintervensi pusat.
Strategi Pendukung
Selain pemangkasan, pemerintah genjot penerimaan via optimalisasi komoditas batu bara, revisi RKAB 2026, dan kajian pajak ekspor dari windfall profit. Tidak ada rencana longgarkan defisit, meski harga BBM naik, dengan skenario cadangan jika konflik global berkepanjangan.

