RI Mau Ekspor Listrik ke Singapura, tapi Masih Terkendala soal Harga

RI Mau Ekspor Listrik ke Singapura, tapi Masih Terkendala soal Harga
Indonesia berencana mengekspor listrik bersih ke Singapura, tapi terkendala harga energi hijau yang masih lebih mahal dibandingkan fosil.

Latar Belakang Rencana

Pemerintah RI dan Singapura mematangkan kerja sama energi, termasuk ekspor listrik dari PLTS, sebagai bagian program 100 GW pembangkit domestik. MoU ditandatangani Juni 2025 untuk 3,4 GW hingga 2035, dengan ekspor mulai 2026-2027. Pertemuan terbaru Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan Tan See Leng di Tokyo (15/3/2026) lanjutkan diskusi.

Tantangan Utama

Harga listrik hijau lebih tinggi daripada fosil, jadi negosiasi harga jadi hambatan kunci. Bahlil tuntut imbal balik dari Singapura, seperti investasi industri hijau di Batam-Bintan-Karimun (BBK) senilai Rp163 triliun dan CCS. Prioritas kebutuhan listrik domestik tetap dijaga sebelum ekspor.

Manfaat Potensial

Ekspor bukan hanya jual listrik, tapi tarik investasi teknologi tinggi ke BBK sebagai pusat industri hijau ASEAN. Kerja sama ini jadi bukti kepemimpinan energi RI-Singapura.
 

Next Post Previous Post