Saham BIPI Melejit, Banyak Diserok Asing, Ini Alasannya
Saham PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) mengalami lonjakan signifikan di awal 2026, didorong oleh akumulasi besar-besaran dari investor asing dan masuknya investor strategis.
Performa Saham
Harga saham BIPI melonjak hingga 276,74% secara year-to-date per akhir Februari 2026, dengan kenaikan harian mencapai 13-17% pada sesi tertentu. Pada 25 Februari 2026, saham ini ditutup di Rp306 setelah naik 13,33%, sementara pada 26 Februari mencapai Rp318 dengan kenaikan 17,78%. Secara mingguan (23-27 Februari), BIPI naik 28,95% menjadi Rp294, menjadikannya salah satu pemenang terbesar di BEI.
Net Buy Asing
Investor asing membeli bersih (net buy) hingga 869,78 juta saham pada sesi I 25 Februari 2026, senilai ratusan miliar rupiah, yang langsung mendorong harga naik tajam. Aksi serok ini terjadi berulang, termasuk net buy 382,8 juta saham di sesi pagi tersebut, meski ada penjualan parsial. Sentimen positif ini juga terlihat sejak akhir 2025, dengan pembelian di pasar negosiasi senilai Rp225 miliar.
Alasan Utama
Masuknya Bakrie Capital Indonesia sebagai pemegang saham baru (sekitar 6% atau 3,82 miliar lembar saham pada harga Rp248 per saham, nilai Rp948 miliar) menjadi katalis utama, diumumkan 24-25 Februari 2026.
Investor asing tertarik karena prospek bisnis BIPI di sektor batu bara (tambang Jembayan sebagai penyumbang utama pendapatan) dan ekspansi ke proyek waste-to-energy (WtE) bernilai US$300-350 juta. Meski laporan keuangan 2025 menunjukkan rugi bersih US$5,42 juta (dari laba US$3,58 juta tahun sebelumnya) akibat penurunan pendapatan, fokus diversifikasi energi dianggap menjanjikan.

