TBS Energi Utama Catat Rugi Bersih Rp 2,7 Triliun di 2025
Perubahan ini menandai pembalikan dari posisi laba di 2024, dipicu oleh divestasi aset strategis dan tekanan harga komoditas.
Penyebab Utama Kerugian
Rugi terbesar mencapai Rp 1,6 triliun dari divestasi dua anak usaha, PT Gorontalo Listrik Perdana (GLP) dan PT Minahasa Cahaya Lestari (MCL), senilai US$96,9 juta.
Pendapatan segmen batu bara merosot 62,62% secara tahunan menjadi US$74,98 juta, meskipun pengelolaan limbah melonjak 11 kali lipat ke US$111,9 juta.
Laba bruto terkoreksi tajam ke US$22,03 juta dari US$78,34 juta tahun sebelumnya, ditambah defisit arus kas operasi US$20,45 juta.
Ringkasan Kinerja Kuartalan
Berikut performa rugi bersih TOBA per kuartal 2025 (dalam Rp triliun, estimasi konversi US$1 = Rp15.600):
|
Kuartal |
Rugi Bersih (Rp T) |
Faktor Kunci |
|
Q1 2025 |
~0,9 |
Rugi operasional |
|
Q2 2025 |
1,88 |
Transisi bisnis |
|
Q3 2025 |
2,12 (9M kumulatif) |
Divestasi aset |
|
Full Year |
~2,7 |
Total estimasi |
Total aset menyusut menjadi US$805,7 juta dari US$893,7 juta akhir 2024, dengan ekuitas di US$238,1 juta.
Strategi dan Dampak Pasar
TOBA tengah pivoting ke pengelolaan limbah untuk diversifikasi, tapi likuiditas tetap menekan.
Saham TOBA terperosok 31,73% dalam sebulan hingga Oktober 2025, ditutup di Rp850 per saham.
Langkah ini bagian dari adaptasi perusahaan terhadap fluktuasi energi global di 2025.

