Batik Air Malaysia Pangkas 30–35% Jadwal Penerbangan pada April 2026
Maskapai Batik Air Malaysia mengumumkan pemangkasan sekitar 30–35 persen jadwal penerbangannya pada April 2026, terutama pada paruh pertama bulan tersebut, sebagai respons terhadap tekanan biaya bahan bakar avtur yang melambung dan situasi geopolitik global yang memengaruhi pasokan energi.
Penyebab pemangkasan jadwal
Lonjakan harga avtur dan ketidakpastian pasokan bahan bakar luar negeri menjadi salah satu faktor utama di balik pengurangan kapasitas operasional Batik Air Malaysia. Kondisi ini diperparah oleh tensi geopolitik di Timur Tengah yang memicu fluktuasi harga energi dan gangguan pada rantai pasokan global, sehingga memaksa banyak maskapai menyesuaikan frekuensi penerbangan.
Seberapa besar pemangkasan?
Batik Air Malaysia memangkas sekitar sepertiga dari jadwal penerbangannya pada April 2026, dengan fokus utama pada penurunan frekuensi terbang, bukan pembatalan rute secara permanen. Beberapa rute domestik Malaysia, seperti rute dari dan menuju Subang, Bintulu, Miri, dan sejumlah bandara lain, mengalami pengurangan frekuensi atau penundaan sementara hingga akhir April 2026.
Dampak bagi penumpang
Meski jadwal berkurang, maskapai menekankan bahwa jaringan rute utama tetap dipertahankan, sehingga penumpang masih dapat terbang di rute‑rute utama dengan frekuensi yang lebih jarang. Penumpang disarankan mengecek ulang jadwal penerbangan menjelang keberangkatan karena beberapa perubahan ini bersifat sementara dan bisa berubah sesuai evaluasi kondisi pasar dan operasional.
Langkah internal maskapai
Dalam memo internal, Batik Air Malaysia menawarkan opsi cuti tanpa gaji secara sukarela kepada karyawan sebagai bagian dari upaya penyesuaian biaya operasional di tengah “situasi krisis” seperti yang pernah diungkap oleh Menteri Pengangkutan Malaysia. Langkah ini ditekankan sebagai langkah sementara yang terkait dengan tekanan eksternal global, bukan indikasi keruntuhan finansial maskapai.

