BPOM Setujui Nutri Level, Konsumsi Gula dan Garam Bakal Lebih Terkontrol

 

BPOM Setujui Nutri Level, Konsumsi Gula dan Garam Bakal Lebih Terkontrol

Indonesia akan menerapkan sistem label Nutri Level pada kemasan pangan olahan untuk membantu masyarakat memilih produk dengan kandungan gula, garam, dan lemak (GGL) yang lebih sehat. Sistem ini terinspirasi dari label bernama Nutrigrade yang sudah digunakan di Singapura, dan diharapkan bisa menekan risiko penyakit tidak menular seperti diabetes dan obesitas.

Apa itu Nutri Level?

Nutri Level adalah pelabelan gizi di bagian depan kemasan yang membagi produk pangan menjadi empat kategori berdasarkan kandungan gula, garam, dan lemak (GGL). Label ini dibuat agar konsumen, termasuk yang tidak terlalu paham tabel komposisi gizi, tetap bisa membaca tingkat keamanan produk hanya dari warna dan huruf di kemasan.

Kategori warna dan maknanya

Berdasarkan informasi dari detikHealth dan sumber terkait, Nutri Level di Indonesia menggunakan empat level seperti ini:

Kategori A (hijau tua) – kandungan GGL lebih rendah; produk yang paling direkomendasikan untuk dikonsumsi.

Kategori B (hijau muda) – kandungan GGL rendah; masih relatif sehat, tapi tetap perlu diperhatikan porsi.

Kategori C (kuning) – perlu dikonsumsi dengan bijak, karena GGL sudah cukup tinggi.

Kategori D (merah) – perlu dibatasi, terutama bagi orang dengan risiko diabetes, hipertensi, atau obesitas.

Dukungan BPOM dan rencana penerapan

BPOM RI sudah merestui revisi aturan Nutri Level sebagai bagian dari strategi pengendalian penyakit tidak menular dan perlindungan konsumen. Rencana awal mengarah ke penerapan wajib bertahap pada 2027, setelah masa edukasi dan sosialisasi selama dua tahun, meski jadwal pasti masih bisa disesuaikan dengan dinamika regulasi dan industri.

Manfaat dan potensi kekhawatiran

Di satu sisi, Nutri Level bisa membantu masyarakat memilih pangan lebih sehat tanpa harus menghitung kalori atau angka pada tabel gizi. Di sisi lain, ada kekhawatiran label warna merah di kategori D justru membuat konsumen “parno” (paranoid) jika terlalu dianggap sebagai larangan mutlak, padahal yang dibutuhkan adalah pemahaman dan pola konsumsi seimbang.

Untuk itu, banyak ahli menekankan pentingnya edukasi sebelum dan selama Nutri Level diterapkan, termasuk program penyuluhan gizi di sekolah, puskesmas, dan media sosial, agar label ini benar‑benar jadi alat bantu, bukan sumber kecemasan.

Next Post Previous Post