BRI Salurkan KPR Subsidi Rp 17,13 T, Dorong Hunian MBR dan Ekonomi Daerah
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI terus memperkuat perannya dalam mendukung program perumahan nasional. Hingga akhir Maret 2026, BRI telah menyalurkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi senilai Rp17,13 triliun kepada lebih dari 125.000 debitur di seluruh Indonesia.
Penyaluran ini tidak hanya membantu masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) untuk memiliki hunian layak, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah. Menurut BRI, pembiayaan perumahan punya efek berantai ke banyak sektor, mulai dari konstruksi, bahan bangunan, logistik, hingga membuka peluang usaha bagi UMKM di sekitar kawasan perumahan.
Direktur Consumer Banking BRI, Aris Hartanto, menyampaikan bahwa perseroan akan terus memaksimalkan penyaluran pembiayaan perumahan agar menjangkau lebih banyak masyarakat di berbagai daerah. Jaringan BRI yang luas menjadi salah satu modal utama untuk memperluas akses pembiayaan rumah, termasuk ke wilayah yang selama ini sulit menjangkau layanan kredit perumahan.
Dukungan terhadap KPR subsidi juga sejalan dengan kebijakan pemerintah melalui subsidi bunga atau margin KPR. Skema ini diatur dalam PMK No. 65 Tahun 2025 dan ditujukan untuk mendukung program 3 juta rumah, dengan subsidi yang ditanggung oleh APBN.
Baca Juga: Pinjaman KUR BRI 2026: Panduan Lengkap Syarat dan Tabel Cicilan Terbaru
Dampak ke daerah
Program KPR subsidi seperti ini memberi manfaat yang lebih luas daripada sekadar menyediakan rumah. Ketika pembangunan perumahan berjalan, aktivitas ekonomi di sekitarnya ikut bergerak, termasuk kebutuhan tenaga kerja, pemasok material, transportasi, dan layanan pendukung lain.
Bagi daerah, penyaluran pembiayaan perumahan juga bisa menjadi katalis pertumbuhan ekonomi lokal. Semakin banyak rumah terbangun dan dihuni, semakin besar pula potensi perputaran uang di lingkungan sekitar kawasan hunian.
Angka kinerja BRI
Capaian Rp17,13 triliun ini menunjukkan tren penyaluran KPR subsidi BRI yang terus meningkat. Sebelumnya, BRI juga sudah mencatat penyaluran Rp16,79 triliun per Februari 2026 kepada 122.838 debitur, lalu naik menjadi Rp17,13 triliun pada akhir Maret 2026.
Artinya, permintaan terhadap pembiayaan rumah bersubsidi masih tinggi, sekaligus menegaskan peran bank penyalur dalam mendukung akses hunian terjangkau bagi MBR.

