Ekosistem Haji–Umrah dan Peluang Ekspor Bumbu Nusantara
Pemerintah Indonesia kini fokus memperkuat ekosistem ekonomi haji dan umrah, tidak hanya sebagai ibadah, tetapi juga sebagai mesin ekonomi yang menggerakkan UMKM di dalam negeri. Salah satu langkah nyata yang tengah dijalankan adalah ekspor bumbu khas Indonesia dan makanan siap saji (ready to eat/RTE) ke Arab Saudi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi jemaah haji dan umrah.
Ekspor Bumbu untuk Jemaah Haji
Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) menginisiasi ekspor bumbu pasta dan bumbu kering Indonesia senilai ratusan ton sebagai bagian dari logistik jemaah haji 2026. Bumbu‑bumbu ini diproduksi dalam berbagai variasi rasa khas Nusantara, mulai dari bumbu rendang, opor, sambal, hingga bumbu kari, yang dirancang untuk digunakan di dapur katering jemaah di Arab Saudi.
Data pemerintah menunjukkan bahwa total perputaran uang selama musim haji 2026 diperkirakan mencapai sekitar Rp18 triliun, dengan ekspor bumbu saja berpotensi menyumbang puluhan miliar rupiah. Nilai ini menunjukkan betapa besar potensi ekonomi yang bisa dimanfaatkan jika rantai pasok bumbu dan makanan lokal dikelola secara terintegrasi.
Dukungan Terhadap UMKM dan Industri Lokal
Program ekspor bumbu dan makanan siap saji ini melibatkan sejumlah UMKM produsen bumbu dan makanan olahan di berbagai daerah. Kemenhaj menggandeng Kementerian/Lembaga terkait, BUMN logistik, dan pelaku usaha nasional untuk memastikan bumbu dan makanan yang dikirim tetap sesuai standar keamanan pangan, ketersediaan, serta harga yang kompetitif.
Dengan lebih dari 200.000 jemaah haji dan sekitar 2 juta jemaah umrah setiap tahun, Indonesia berada di posisi strategis sebagai negara dengan jumlah jemaah terbesar di dunia. Besarnya jumlah jemaah tersebut membuka peluang bagi UMKM untuk memperluas pasar ke kawasan Timur Tengah melalui produk bumbu dan makanan khas Indonesia yang sudah lolos proses ekspor resmi.
Penguatan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah
Konsep ekosistem ekonomi haji–umrah tidak hanya berhenti pada bumbu dan makanan, tetapi mencakup perhotelan, transportasi, logistik, layanan kesehatan, dan produk oleh‑oleh. Dengan mengintegrasikan seluruh rantai nilai ini, pemerintah berharap dana haji yang masuk ke Arab Saudi dapat sebagian besar kembali mengalir ke pelaku usaha di dalam negeri, sehingga manfaat ekonomi dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan serta Kemenhaj juga menekankan pentingnya penguatan ekosistem yang berkelanjutan, agar Indonesia tidak hanya menjadi “pemasok jemaah”, tetapi juga pusat rantai pasok logistik dan produk halal berbasis bumbu dan makanan tradisional.
Tantangan dan Peluang ke Depan
Sejumlah tantangan masih perlu diatasi, seperti standarisasi produk, kapasitas produksi UMKM, serta efisiensi logistik pengiriman bumbu segar maupun kering ke Arab Saudi. Namun, dengan dukungan pelatihan, pembiayaan, dan sinergi dengan BUMN logistik, target untuk meningkatkan volume ekspor bumbu hingga ratusan ton dan membuka jalur ekspor rutin dapat terwujud.
Ke depan, ekspor bumbu dan makanan siap saji untuk jemaah haji bisa menjadi pintu masuk bagi produk Indonesia lainnya, seperti tasbih, perlengkapan ibadah, serta oleh‑oleh khas daerah, untuk menembus pasar global berbasis musim haji dan umrah. Dengan demikian, ekosistem haji–umrah bukan hanya soal ibadah, tetapi juga soal ekonomi, kemandirian logistik, dan pengembangan industri budaya kuliner Indonesia di tingkat regional dan internasional.

