Harga BBM Naik 40%, Pakistan Gratiskan Transportasi Umum Sebulan
Pakistan baru‑baru ini menghadapi lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) hingga sekitar 40–55 persen, yang memicu protes warga dan antrean panjang di SPBU. Imbasnya, pemerintah memutuskan menggratiskan layanan transportasi umum di ibu kota Islamabad dan provinsi paling padat selama satu bulan penuh untuk meringankan beban masyarakat.
Kenaikan harga BBM hingga 40–50 persen
Pemerintah Pakistan menaikkan harga bensin dari sekitar 321 rupee menjadi 458–485 rupee per liter, atau melonjak lebih dari 40 persen. Harga solar juga naik tajam, dari sekitar 336 rupee menjadi 520 rupee per liter, oder lebih dari 50 persen, akibat gangguan pasokan energi global yang dipicu konflik di Timur Tengah.
Lonjakan harga ini memicu aksi protes, panik buying, dan antrean panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar di berbagai kota. Pemerintah menegaskan kenaikan itu diperlukan untuk menyesuaikan dengan harga minyak mentah dunia yang melesat karena konflik di jalur strategis seperti Selat Hormuz.
Transportasi umum gratis selama sebulan
Sebagai respons, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengumumkan bahwa semua transportasi umum milik negara di Islamabad dan provinsi paling padat (Punjab) akan digratiskan selama 30 hari. Kebijakan ini ditujukan untuk memperingan biaya perjalanan warga, terutama kalangan berpenghasilan rendah yang sangat terpukul oleh melonjaknya harga BBM.
Program ini diperkirakan membebani anggaran negara sekitar 350 juta rupee Pakistan (sekitar Rp21 miliar), yang akan ditanggung kementerian terkait. Menteri Dalam Negeri Mohsin Naqvi menegaskan layanan akan gratis mulai besok pengumuman dan berlaku bagi semua masyarakat tanpa syarat.
Dampak ekonomi dan langkah ke depan
Kebijakan gratifikasi transportasi umum sekaligus menaikkan harga BBM mencerminkan jalan tengah pemerintah antara tekanan fiskal dan desakan sosial. Sebagian pihak melihat ini sebagai langkah jangka pendek, sementara tekanan inflasi, biaya logistik, dan beban keuangan negara masih menjadi tantangan jangka menengah.
Di sisi lain, pemerintah menegaskan akan terus mengawasi harga energi dan mempertimbangkan penyesuaian ke depan jika situasi geopolitik dan pasar minyak dunia berubah. Langkah Pakistan ini juga menjadi contoh bagi negara lain yang menghadapi krisis energi serupa: menaikkan harga energi tetapi mengompensasi dengan subsidi selektif di sektor transportasi publik.

