Harga Nikel Melonjak ke Level Tertinggi Akibat Kelangkaan Pasokan Global

Harga Nikel Melonjak ke Level Tertinggi Akibat Kelangkaan Pasokan Global

Harga nikel dunia sempat mengalami lonjakan signifikan sepanjang awal tahun 2026 yang didorong terutama oleh kebijakan pemerintah Indonesia dalam mengendalikan pasokan global. 

Langkah strategis Indonesia untuk memangkas kuota produksi nikel melalui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2026 menjadi katalis utama yang menopang harga di tengah kekhawatiran kelebihan pasokan.

Dinamika Pasar Nikel 2026

Pada awal tahun 2026, harga nikel di London Metal Exchange (LME) mencatatkan kenaikan yang konsisten, sempat menyentuh level di atas US$18.000 per ton pada Februari 2026. Lonjakan ini merupakan respons pasar terhadap rencana Indonesia—sebagai produsen nikel terbesar di dunia untuk mengurangi produksi sebesar 34% guna menstabilkan harga komoditas yang sebelumnya sempat tertekan.

Faktor Pendukung Harga

Beberapa faktor utama yang mempengaruhi pergerakan harga nikel tahun ini antara lain:

Disiplin Produksi Indonesia: Persetujuan RKAB dengan output yang lebih terkontrol (sekitar 190–200 juta ton) terus memberikan dukungan pada kepercayaan investor terhadap keseimbangan pasar.

Tekanan Sisi Pasokan: Gangguan pada biaya operasional, seperti melonjaknya harga belerang yang digunakan dalam pengolahan nikel HPAL, memaksa beberapa pengolah memangkas output jangka pendek.

Proyeksi Defisit: International Nickel Study Group (INSG) sempat memproyeksikan pergeseran dari surplus besar tahun sebelumnya menuju defisit pasar yang lebih ketat pada tahun 2026.

Meskipun harga sempat stabil di kisaran US$17.000–US$17.400 per ton pada April 2026, pasar tetap memperhatikan kondisi permintaan global yang masih cenderung moderat. 

Aktivitas manufaktur yang belum pulih sepenuhnya dan melimpahnya produksi baja tahan karat global menahan potensi lonjakan harga yang lebih ekstrem, meskipun sentimen pasokan tetap menjadi penopang utama harga di level saat ini.

Next Post Previous Post