Harga Plastik Melonjak, RI Ngimpor Plastik Rp14,78 Triliun Sebulan
Penyebab harga plastik naik
Plastik sebagian besar berasal dari turunan minyak bumi, seperti polyethylene (PE) dan polypropylene, yang harganya sangat tergantung harga minyak global.
Konflik di Timur Tengah mengganggu pasokan bahan baku minyak dan produk petrokimia, sehingga kapasitas ekspor polyethylene dan polypropylene dari kawasan itu terganggu. Kawasan Timur Tengah sendiri menyumbang sekitar 25% ekspor polyethylene dan polypropylene dunia, dan sebagian besar kapasitas polyethylene mereka bergantung pada Selat Hormuz untuk pengiriman laut.
Pola impor plastik Indonesia
Pada Februari 2026, impor plastik Indonesia dominan berasal dari China dengan nilai US$380,1 juta, diikuti Thailand (US$82,7 juta) dan Korea Selatan (US$66,7 juta).
Indonesia juga masih mengimpor plastik dari negara-negara lain seperti Amerika Serikat, Arab Saudi, Vietnam, Jepang, Singapura, Malaysia, dan Taiwan, yang menunjukkan ketergantungan luas pada pasokan global. Besaran impor Februari 2026 memang lebih rendah dari Januari (US$949,2 juta), tetapi lebih tinggi dari Februari 2025 (US$810,4 juta), artinya volume impor masih meningkat year‑on‑year.
Dampak terhadap pelaku usaha
Mahalnya harga bahan baku plastik langsung menekan industri pengolahan dan UMKM, terutama pelaku usaha yang mengandalkan kemasan plastik.
Pedagang melaporkan kenaikan harga plastik berbagai ukuran hingga Rp6.000 per pak, misalnya dari semula Rp17.000 menjadi Rp23.000 per pak, sehingga modal meningkat dan keuntungan tergerus. Kenaikan ini juga memicu kekhawatiran bahwa harga produk jadi dan kemasan akan ikut naik di tingkat konsumen.
Ketergantungan bahan baku impor
Industri plastik Indonesia masih mengandalkan impor bahan baku petrokimia, terutama polyethylene dan polypropylene, sehingga sangat rentan terhadap gejolak harga dan pasokan global.
Ketergantungan pada Timur Tengah sebagai sumber utama bahan baku membuat Indonesia ikut terdampak begitu terjadi gangguan produksi atau distribusi di kawasan tersebut.
Pemerintah dan pelaku usaha mulai mencari alternatif pemasok baru dan mendorong hilirisasi agar sektor plastik bisa lebih mandiri dan tidak terlalu terguncang oleh konflik geopolitik.

