Konsolidasi Aset Fiber PLN Icon+, Peluang Saham TLKM Meroket
PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) mendapat mandat dari Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara untuk mengkonsolidasikan aset fiber optic milik BUMN lain, termasuk PLN Icon+, guna memperkuat fondasi infrastruktur digital nasional.
Langkah ini dipandang strategis karena bakal menobatkan TLKM sebagai tulang punggung jaringan digital Tanah Air, dengan optimalisasi utilisasi jaringan yang lebih tinggi. Analis memperkirakan dampak positif ini bisa mendorong eskalasi valuasi saham TLKM secara signifikan.
Latar Belakang Konsolidasi
Konsolidasi aset fiber optic PLN Icon+ melibatkan jaringan seluas 400 ribu km dengan 1,2 juta home connection dan 2,7 juta home passes, plus layanan untuk enterprise serta pemerintahan. Pada FY24, PLN Icon+ catatkan pendapatan Rp6,9 triliun, di mana Rp4,9 triliun berasal dari layanan telco. Inisiatif ini sejalan dengan arahan Danantara untuk merampingkan infrastruktur BUMN yang tumpang tindih, sambil memulihkan skala InfraNexia pasca-restatement aset fiber.
Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, menegaskan fokus utama adalah menjadikan InfraNexia sebagai fiberco yang mumpuni sebelum unlock value melalui penjualan saham. Rencana ini menunda pencarian mitra strategis hingga 2027, dengan kontribusi bisnis fiber ditargetkan capai 25-40% pasca-spin-off.
Dampak pada Kinerja dan Valuasi TLKM
| (Foto Saham TLKM dari Google Finansial) |
Dengan target sell-down 20-30% saham InfraNexia pada valuasi 9-12x EV/EBITDA, fair value TLKM bisa tembus Rp4.100-4.500 per saham. Saat ini, harga TLKM sekitar Rp3.160, dengan rekomendasi Buy dan target price Rp4.000 berdasarkan 5,8x EV/EBITDA plus DCF.
Meski margin laba jangka pendek mungkin tergerus karena biaya integrasi, sentimen positif ini dianggap katalis utama untuk pertumbuhan jangka panjang. Bisnis infrastruktur fiber historis selalu dihargai premium oleh pasar.
|
Aspek |
PLN Icon+ Kontribusi |
Proyeksi InfraNexia |
|
Jaringan Fiber |
400 ribu km |
Skala nasional lebih kuat |
|
EBITDA Tambahan |
Rp2,6 triliun |
Total Rp12,7 triliun |
|
Target Valuasi Saham TLKM |
- |
Rp4.100-4.500 |
Risiko dan Prospek ke Depan
Risiko utama termasuk penyesuaian nilai aset fiber yang lebih besar dari ekspektasi atau impairment. Namun, konsolidasi ini mendukung efisiensi operasional dan monetisasi aset untuk investor strategis. Investor disarankan pantau perkembangan diskusi struktur konsolidasi, yang lebih condong ke injeksi aset ketimbang akuisisi korporat penuh. Secara keseluruhan, langkah ini berpotensi reignite cerita value unlocking InfraNexia.

