Pertamina Diversifikasi Impor Minyak dari Afrika dan Brasil
Pertamina sedang mengoptimalkan impor minyak mentah dari Afrika dan Brasil sebagai respons terhadap gejolak geopolitik di Timur Tengah. Strategi ini memastikan ketahanan energi nasional tetap terjaga di tengah penutupan Selat Hormuz akibat konflik Iran-AS.
Latar Belakang Krisis Pasokan
Konflik antara Iran dan Amerika Serikat menyebabkan penutupan Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama 19-25% impor minyak Indonesia dari Timur Tengah. Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menegaskan bahwa Afrika dan negara lain sudah menjadi sumber impor rutin untuk mengantisipasi risiko ini.
Pemerintah melalui Menteri ESDM Bahlil Lahadalia juga aktif mencari alternatif, termasuk negosiasi dengan Rusia untuk minyak mentah dan LPG pada 14 April 2026.
Negara Sumber Baru
Afrika, khususnya Angola dan Aljazair, menjadi prioritas utama. Pada Januari 2026, Pertamina berhasil mengangkut 1 juta barel minyak dari Aljazair, menandai pengapalan perdana yang sukses.
Brasil serta Amerika Serikat turut dilibatkan untuk diversifikasi, mengurangi ketergantungan pada Timur Tengah yang hanya mencakup 20-25% dari total impor harian 1 juta barel.
|
Sumber Impor |
Porsi Saat Ini |
Contoh Negara |
|
Timur Tengah |
19-25% |
Via Selat Hormuz |
|
Afrika |
Rutin & meningkat |
Angola, Aljazair |
|
Lainnya |
75-80% |
Brasil, AS, Rusia |
Dampak dan Strategi Jangka Panjang
Diversifikasi ini menjaga pasokan stabil meski biaya impor mencapai Rp500 triliun per tahun untuk 1 juta barel harian. Pertamina menerapkan skema distribusi alternatif reguler dan emergensi untuk kebutuhan nasional.
Langkah ini selaras dengan arahan pemerintah, memastikan harga BBM dan LPG tetap terkendali di tengah dinamika global.

