Profil Saham MDIA 2026: Prospek Cerah di Era Digital Indonesia
PT Intermedia Capital Tbk. (MDIA) berdiri pada 2008 dengan nama awal PT Magazine Asia, lalu berubah menjadi Intermedia Capital dan mulai beroperasi komersial tahun 2009. Perusahaan ini melantai di Bursa Efek Indonesia sejak 11 April 2014 dengan kode saham MDIA.
MDIA bergerak di bidang perdagangan dan jasa konsultasi manajemen bisnis, serta merupakan induk usaha PT Cakrawala Andalas Televisi (ANTV), salah satu dari 10 televisi teresterial FTA (free‑to‑air) berskala nasional di Indonesia. Dalam konteks “era digital”, MDIA dan ANTV gencar menerapkan strategi konvergensi, yaitu menghadirkan konten yang bisa dinikmati di berbagai platform dan perangkat (OTT, aplikasi, streaming, dan TV tradisional).
Kinerja keuangan dan valuasi (2025–2026)
| (Foto Saham MDIA dari Google Finansial) |
Beberapa indikator kunci:
PER (Price to Earnings) masih negatif atau sangat tinggi, menunjukkan perusahaan belum konsisten profit atau valuasi saham lebih ditopang ekspektasi daripada laba riil.
P/B ratio sekitar 4,48x, menunjukkan harga saham sudah cukup di atas nilai buku perusahaan.
Harga kembali (return): dalam 3 bulan sekitar 160–160+%, dalam 6 bulan hingga >300%, menandakan momentum spekulatif yang kuat.
Artinya, potensi kenaikan MDIA 2026 lebih banyak digerakkan ekspektasi era digital dan sentimen pasar, bukan semata kinerja laba operasional.
Katalis positif di era digital Indonesia
Beberapa faktor yang bisa dijadikan “prospek cerah” meliputi:
✅ Konvergensi media audio‑visual
MDIA melalui ANTV bertransformasi ke platform digital (OTT, streaming, aplikasi, dan kolaborasi dengan ekosistem media digital lainnya), sehingga bisa menangkap peningkatan konsumsi konten online oleh masyarakat Indonesia.
Ini sejalan dengan tren penetrasi internet, penggunaan smartphone, dan kebutuhan hiburan digital berbasis streaming.
✅ Pemulihan dan peningkatan partisipasi institusi
Data kepemilikan saham per 2026 menunjukkan ada peningkatan kepemilikan oleh investor institusi (misalnya DMS Investama yang membeli ratusan juta saham MDIA), yang bisa menjadi indikator mulai masuknya investor profesional ke saham ini.
Hal ini sering dikaitkan dengan harapan restrukturisasi atau peningkatan kinerja bisnis di tengah kompetisi digital.
✅ Aktivitas perdagangan yang sangat aktif
Di akhir 2025, saham MDIA sempat disuspend lalu kembali dibuka dengan kenaikan harga sangat tajam, bahkan BEI menyebut ada unusual market activity (peningkatan harga di luar kebiasaan).
Pascasuspen dan kembali aktif, volume perdagangan MDIA juga melonjak (misalnya naik >130% suatu periode), menandakan minat spekulatif dan potensi likuiditas tinggi.
✅ Kebijakan dan regulasi digital
Dengan dorongan pemerintah terhadap transformasi digital, termasuk regulasi penyiaran dan konten digital, perusahaan seperti MDIA berpotensi memanfaatkan perizinan dan sinergi dengan platform dalam negeri.
Risiko dan pertimbangan investasi
Meski berpotensi cerah di era digital, MDIA tetap mengandung risiko tinggi:
Ekspektasi vs realitas laba: valuasi tinggi (PER negatif, P/B di atas 4x) menunjukkan saham masih sangat speculative, sehingga harga bisa mudah turun jika kinerja keuangan atau konten tidak membaik.
Kapitalisasi kecil hingga menengah: saham tier 3 rentan volatilitas ekstrem dan sering jadi sasaran spekulasi atau “saham gorengan”.
Ketergantungan pada konten dan iklan: pendapatan bisnis utama masih banyak dari iklan dan program TV; jika tren penonton dan pengiklan berpindah ke platform lain, MDIA bisa tertekan.

