DAAZ Didepak FTSE Russell, Saham Anjlok 67 Persen dalam Setahun

DAAZ Didepak FTSE Russell, Saham Anjlok 67 Persen dalam Setahun

FTSE Russell resmi mengeluarkan PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ) dari indeks FTSE Global Equity Index Series (GEIS). Keputusan ini menambah tekanan pada saham DAAZ yang sudah terkoreksi tajam, dengan penurunan sekitar 67 persen dalam setahun terakhir.

FTSE Russell cabut DAAZ

Dalam pembaruan indeks terbaru, DAAZ masuk daftar emiten yang dikeluarkan dari indeks micro cap FTSE Russell. Alasan utamanya disebut terkait gagal memenuhi persyaratan minimum free float.

Kebijakan ini berlaku efektif pada 22 Juni 2026. Selain DAAZ, FTSE Russell juga menghapus DSSA, HILL, dan MLIA dari daftar indeksnya.

Tekanan ke harga saham

DAAZ Didepak FTSE Russell, Saham Anjlok 67 Persen dalam Setahun
(Foto Saham DAAZ dari Aplikasi Stockbit)
Kabar ini datang saat saham DAAZ sudah berada dalam tren pelemahan. Dalam setahun terakhir, sahamnya tercatat anjlok sekitar 67 persen, sehingga keputusan FTSE Russell berpotensi memperburuk sentimen pasar terhadap emiten tersebut.

Masuk dan keluarnya saham dari indeks global biasanya memengaruhi minat investor institusi. Saat sebuah saham dikeluarkan, potensi aliran dana pasif yang sebelumnya mengikuti indeks bisa ikut berkurang.

Faktor yang disorot pasar

Salah satu perhatian utama investor terhadap DAAZ adalah tingkat free float yang dianggap belum memadai untuk memenuhi aturan indeks. Dalam konteks indeks global, free float yang kecil dapat mengurangi likuiditas dan membuat saham lebih rentan bergejolak.

Kondisi ini juga membuat pasar lebih selektif dalam menilai prospek saham DAAZ ke depan. Selain kinerja operasional, struktur kepemilikan dan kedalaman perdagangan di bursa kini menjadi sorotan utama.

Implikasi bagi investor

Bagi investor ritel, keluarnya DAAZ dari FTSE Russell adalah sinyal penting untuk memperhatikan risiko likuiditas dan tekanan harga. Saham yang keluar dari indeks global sering menghadapi aksi jual lanjutan, terutama bila minat beli pasar tidak cukup kuat.

Namun, keputusan indeks tidak selalu mencerminkan kondisi bisnis jangka panjang secara langsung. Investor tetap perlu melihat fundamental perusahaan, rencana aksi korporasi, dan kemampuan manajemen menjaga likuiditas saham di pasar.

 

Next Post Previous Post