Inflasi April 2026 Diprediksi Melandai ke 2,39 Persen, Ini Pendorongnya
Inflasi Indonesia pada April 2026 diperkirakan melandai dibandingkan Maret 2026, seiring meredanya tekanan harga pasca-Ramadan dan Idulfitri. Sejumlah ekonom menilai inflasi tahunan atau year on year (YoY) akan turun ke kisaran 2,39 persen hingga 2,84 persen.
Menurut proyeksi Bank Permata, inflasi tahunan April 2026 bisa turun ke level 2,40 persen dari 3,48 persen pada Maret 2026. Sementara itu, inflasi bulanan diperkirakan hanya sekitar 0,11 persen, jauh lebih rendah dibandingkan tekanan harga pada bulan sebelumnya.
Penyebab Inflasi Melandai
Penurunan inflasi ini terutama didorong oleh normalisasi permintaan setelah periode Ramadan dan Idulfitri. Tekanan pada harga pangan, transportasi, pakaian, dan kebutuhan hari raya disebut mulai mereda pada April.
Faktor lain adalah berakhirnya efek basis rendah atau low base effect dari diskon tarif listrik pada tahun lalu. Dengan basis pembanding yang lebih tinggi, laju inflasi tahunan terlihat lebih rendah secara statistik.
Risiko yang Masih Perlu Diwaspadai
Meski inflasi umum diprediksi menurun, sejumlah risiko tetap ada. Kenaikan harga BBM non-subsidi, pelemahan rupiah, dan harga minyak global dapat memberi tekanan lanjutan pada biaya produksi dan transportasi.
Bank Mandiri juga menilai komponen administered prices berpotensi meningkat akibat penyesuaian harga energi, walau dampaknya terhadap inflasi April dinilai masih terbatas. Tekanan yang lebih besar kemungkinan baru terasa pada bulan berikutnya.
Inflasi Inti Masih Stabil
Di sisi lain, inflasi inti diperkirakan tetap relatif stabil di kisaran 2,31 persen hingga 2,57 persen. Ini menunjukkan permintaan domestik masih cukup kuat meski aktivitas konsumsi pasca-Lebaran mulai melandai.
Dengan proyeksi tersebut, inflasi April 2026 masih berada dalam rentang target Bank Indonesia. Kondisi ini memberi sinyal bahwa tekanan harga masih terkendali meskipun ada beberapa faktor eksternal yang perlu diwaspadai.

