Mitratel Peroleh Kredit Hijau Rp 500 Miliar dari HSBC Indonesia

Mitratel Peroleh Kredit Hijau Rp 500 Miliar dari HSBC Indonesia

PT Mitratel Indonesia Tbk (MTEL), anak usaha PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, baru saja mengumumkan perolehan fasilitas kredit hijau senilai Rp 500 miliar dari HSBC Indonesia. Pinjaman ini bertujuan untuk mendukung pengembangan infrastruktur telekomunikasi ramah lingkungan, sejalan dengan komitmen perusahaan terhadap praktik ESG (Environmental, Social, Governance).

Menurut keterangan resmi Mitratel, kredit hijau ini akan dialokasikan khusus untuk proyek-proyek berkelanjutan, seperti pembangunan menara telekomunikasi dengan teknologi hemat energi, pemasangan panel surya, dan optimalisasi jaringan 5G yang rendah emisi karbon. 

"Kolaborasi ini memperkuat posisi Mitratel sebagai pemimpin dalam infrastruktur digital berkelanjutan di Indonesia," ujar Theodorus Ardi Hartoko, Direktur Utama Mitratel, dalam pernyataan resminya.

HSBC Indonesia, sebagai salah satu bank asing terkemuka di Tanah Air, semakin aktif dalam pembiayaan hijau sejak peluncuran Green Financing Framework pada 2023. 

Pinjaman kepada Mitratel merupakan bagian dari target HSBC untuk menyediakan US$ 100 miliar (sekitar Rp 1.600 triliun) pembiayaan berkelanjutan secara global hingga 2030. "Kami bangga mendukung Mitratel dalam transisi menuju ekonomi hijau, yang krusial bagi pertumbuhan digital Indonesia," kata Muljono Tjandra, Country Head of Global Banking HSBC Indonesia.

Dampak Strategis bagi Mitratel dan Industri Telekomunikasi

Mitratel saat ini mengelola lebih dari 25.000 menara telekomunikasi di seluruh Indonesia, menjadikannya penyedia towerco terbesar di Tanah Air. 

Pendanaan ini datang di saat yang tepat, mengingat lonjakan permintaan infrastruktur digital pasca-pandemi dan percepatan adopsi 5G. Hingga kuartal I 2026, pendapatan Mitratel mencapai Rp 2,1 triliun, naik 15% year-on-year, didorong oleh kontrak dengan operator besar seperti Telkomsel dan Indosat Ooredoo Hutchison.

Secara lebih luas, kredit hijau ini mencerminkan tren global di sektor telekomunikasi. Menurut laporan GSMA, industri towerco di Asia Tenggara diproyeksikan tumbuh 8% per tahun hingga 2030, dengan penekanan pada keberlanjutan untuk memenuhi regulasi seperti POJK No. 51/2017 tentang Pembiayaan Berkelanjutan dari OJK. 

Di Indonesia, pemerintah melalui Kementerian BUMN mendorong BUMN seperti Telkom untuk mencapai net-zero emission pada 2060.

Next Post Previous Post