PLN Indonesia Power Bidik Proyek PLTS 495 MW di Bangladesh
PT PLN Indonesia Power (PLN IP), subholding PT PLN (Persero) yang fokus pada bisnis pembangkitan, tengah menjajaki proyek pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Bangladesh dengan total potensi kapasitas hingga 495 megawatt (MW).
Wisata Kerja Sama dengan Bay Group
Kerja sama ini dimulai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara PLN Indonesia Power dan Bay Group, konglomerasi asal Bangladesh yang juga menggerakkan usaha energi dan infrastruktur di sana. Proyek ini melibatkan anak usaha Bay Group, yakni CUSP (Coal Utilisation and Sustainable Power), sebagai mitra operasional dalam pengembangan PLTS.
Melalui kerja sama ini, PLN IP tidak hanya masuk sebagai pengembang, tetapi juga berperan sebagai mitra teknis yang mengusung pengalaman Indonesia di sektor energi terbarukan, termasuk optimasi grid, skim pembiayaan, dan teknologi PLTS yang sudah teruji di Tanah Air.
Skema dan Lokasi Proyek
Proyek PLTS 495 MW rencananya akan dibangun di 10 lokasi strategis yang diusulkan oleh Bangladesh Power Development Board (BPDB), otoritas ketenagalistrikan nasional Bangladesh. Lokasi‑lokasi tersebut dipilih berdasarkan potensi radiasi matahari, ketersediaan lahan, serta kedekatan dengan jaringan distribusi listrik yang sudah ada.
Skema proyek mengusung pola developer‑investor‑operator, di mana PLN IP berperan sebagai developer dan operator, sementara konsorsium Bay Group dan mitra lokal menjadi investor utama. Format ini memungkinkan skema pembiayaan proyek yang lebih fleksibel sekaligus menyerap tenaga kerja lokal dalam proses pembangunan dan operasi.
Strategi Ekspansi Global PLN IP
Langkah ini menjadi bagian dari strategi PLN Indonesia Power untuk memperluas jejak global di sektor energi baru terbarukan (EBT), khususnya energi surya. Bangladesh, dengan pertumbuhan permintaan listrik yang tinggi dan komitmen menurunkan ketergantungan pada batu bara, dinilai sebagai pasar yang potensial untuk proyek PLTS skala besar.
Keberadaan proyek PLTS 495 MW di Bangladesh juga sejalan dengan agenda transisi energi global, di mana Indonesia berperan sebagai eksporter teknologi, model bisnis, dan kapasitas SDM energi hijau ke negara berkembang. Dengan proyek ini, PLN IP ingin menunjukkan bahwa pengalaman Indonesia dalam merancang dan mengelola PLTS dapat di‑adaptasi di berbagai konteks geografis.
Dampak Ekonomi dan Energi
Secara ekonomi, proyek PLTS 495 MW berpotensi mendorong penyerapan tenaga kerja lokal, baik selama fase konstruksi maupun pada masa operasi pembangkit. Di sisi lain, energi surya yang dihasilkan akan membantu diversifikasi bauran energi Bangladesh dan mengurangi tekanan pada pembangkit berbahan bakar fosil, sehingga mengurangi emisi karbon.
Bagi Indonesia, proyek ini menjadi bukti konkret ekspor kapasitas energi hijau sekaligus membuka peluang kerja sama lanjutan di sektor energi terbarukan dengan negara‑negara Asia Selatan dan Asia Tenggara. Keberhasilan PLTS di Bangladesh juga dapat menjadi “portofolio ikonik” PLN IP yang kelak digunakan untuk menarik proyek serupa di negara lain, termasuk di kawasan ASEAN.

