Rupiah Tembus Rp17.800/US$: Ekonom Jelaskan Kondisi Overshooting
Nilai tukar rupiah saat ini memasuki fase overshooting, di mana mata uang Indonesia menanggung beban tekanan ekonomi yang terlalu besar. Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menilai rupiah menjadi shock absorber utama sambil inflasi dan harga energi ditahan untuk menjaga stabilitas sosial dan daya beli masyarakat.
Kondisi yang terjadi pada rupiah sesuai dengan teori Dornbusch Overshooting. Teori ini menjelaskan bahwa ketika harga domestik bersifat kaku (rigid) sementara pasar keuangan bergerak cepat, nilai tukar akan bergerak jauh lebih ekstrem dibandingkan fundamental ekonominya.
Apa Itu Dornbusch Overshooting?
| (Foto Kurs Dolar-Rupiah dari TradingView) |
|
Aspek |
Penjelasan |
|
Definisi |
Pelemahan mata uang secara cepat, jauh lebih cepat daripada perubahan
fundamental ekonomi |
|
Penyebab |
Harga domestik ditahan (inflasi, energi), tekanan berpindah ke kurs |
|
Dampak |
Nilai tukar bergerak melampaui titik keseimbangan jangka pendek |
Tekanan yang Ditanggung Rupiah
Fakhrul Fulvian menjelaskan mekanisme tekanan yang terjadi:
"Inflasi yang seharusnya muncul di banyak tempat akhirnya terlalu banyak ditanggung oleh rupiah," ujarnya.
Ketika penyesuaian domestik dilakukan sangat hati-hati demi menjaga stabilitas sosial, tekanan ekonomi tidak hilang, hanya berpindah ke kurs. Rupiah akhirnya menjadi penyangga utama guncangan ekonomi.
Pergerakan Kurs Rupiah
Rupiah di pasar offshore (luar negeri) melemah hingga melewati Rp17.800 per dolar AS
Pelemahan terjadi saat pasar domestik libur Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah pada 27–28 Mei 2026
Sebelumnya, pada Maret 2025, rupiah pernah mengalami overshooting ke level Rp16.600/US$
Implikasi untuk Perekonomian
Meskipun terjadi depresiasi cepat, Fakhrul menilai hal ini tidak akan membawa goncangan signifikan untuk perekonomian domestik karena:
Sebesar kewajiban debitur besar Indonesia kini sudah dalam denominasi rupiah, bukan dolar AS seperti di tahun 1990-an
Fundamental ekonomi Indonesia tetap solid dengan pertumbuhan stabil di kisaran 5 persen
Cadangan devisa masih sehat di USD 148,2 miliar (akhir Maret 2026), cukup untuk membiayai lebih dari enam bulan impor
Neraca perdagangan masih surplus didorong ekspor batu bara, CPO, dan nikel
Rekomendasi Kebijakan
Beberapa ekonom meminta Bank Indonesia mengambil langkah lebih hawkish dan bersifat pre-emptive demi menjaga stabilitas rupiah, termasuk kemungkinan menaikkan suku bunga. Tekanan terhadap rupiah bersifat siklikal dan lebih merupakan bagian dari penyesuaian global daripada kelemahan fundamental domestik.

