Telkom Pangkas Menjadi 19 Entitas Anak Usaha: Restrukturisasi untuk Dorong Bisnis Digital
Strategi Perampingan dan Skema Transaksi
Perusahaan membubarkan atau menggabungkan sedikitnya 48 anak usaha melalui berbagai skema, seperti merger, divestasi, likuidasi, konsolidasi, hingga pembentukan holding baru. Rangkaian langkah ini digadang sebagai upaya streamlining untuk menyederhanakan struktur korporasi sekaligus mengurangi tumpang tindih bisnis dan beban operasional yang tidak efisien.
Telkom juga tengah memperkuat fondasi bisnis inti infrastruktur digital, termasuk fiber optik dan konektivitas, dengan memisahkan sebagian bisnis wholesale fiber connectivity ke anak usaha khusus InfraNexia.
Sejumlah entitas dengan bisnis non‑inti atau yang berulang‑ulang di lingkungan ekosistem TelkomGroup juga ikut dirampingkan, termasuk proposal divestasi AdMedika dan TelkoMedika yang sudah mencapai tahap Conditional Sale and Purchase Agreement (CSPA).
Tujuan: Fokus Bisnis Inti dan Daya Saing Digital
Menurut Direktur Pengembangan Bisnis Strategis dan Portofolio Telkom, Seno Soemadji, tujuan utama adalah meningkatkan efektivitas operasional dan memperkuat fokus bisnis Telkom pada segmen yang paling berpotensi menghasilkan nilai tambah. Dengan struktur yang lebih ramping, manajemen berharap margin dan profitabilitas TLKM lebih terjaga di tengah tekanan persaingan pasar data, cloud, dan layanan digital.
Kepala Badan Pengelola (BP) BUMN sekaligus Chief Operating Officer Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menilai penyederhanaan entitas penting agar Telkom bisa lebih kompetitif di industri digital yang berkembang cepat.
Ia menekankan bahwa perampingan bukan sekadar memangkas, melainkan juga merapikan struktur perusahaan dan memperkuat empat segmen Operating Company (OpCo) utama: B2C, B2B Infrastructure, B2B ICT, dan International.
Implikasi bagi Investor dan Ekosistem Digital
Bagi investor, aksi ini dinilai dapat menjadi sentimen positif karena menunjukkan komitmen manajemen untuk meningkatkan efisiensi, mengurangi beban entitas non‑inti, serta memfokuskan investasi pada lini bisnis yang lebih berdaya saing.
Dengan memperkuat infrastruktur digital nasional, Telkom juga berpotensi memperlebar ruang jelajah bisnis digital tanah air, dari konektivitas dasar hingga layanan cloud, data center, dan solusi enterprise.
Restrukturisasi ini juga menjadi sinyal bahwa Telkom bersiap menjadi strategic holding yang lebih ramping, dengan anak‑anak usaha yang lebih fokus dan terukur, sehingga memudahkan pengambilan keputusan dan pengelolaan portofolio modal.
Dalam jangka panjang, perubahan ini diharapkan mendongkrak nilai perusahaan sekaligus memperkuat posisi Telkom sebagai tulang punggung ekosistem digital Indonesia.

