Yuan Marak Dipakai di RI, BI Permudah Transaksinya di Perbankan
Bank Indonesia (BI) resmi mempermudah transaksi menggunakan mata uang Yuan (CNY) di Indonesia menyusul peningkatan signifikan penggunaannya dalam perdagangan bilateral dengan China. Nilai transaksi Local Currency Transaction (LCT) antara Indonesia dan China kini mencapai US$3,7 miliar per bulan.
Latar Belakang: Kenaikan Penggunaan Yuan
Penggunaan Yuan semakin marak di Indonesia karena implementasi skema Local Currency Settlement (LCS) antara BI dan People's Bank of China (PBC) yang resmi dimulai pada September 2021. Kerjasama ini memungkinkan Indonesia dan China meninggalkan dolar AS sebagai alat pembayaran dalam transaksi bilateral, menggunakan langsung mata uang lokal yakni Rupiah dan Yuan.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan bahwa LCS Indonesia-China saat ini sudah setara US$3,7 miliar per bulan, sehingga diperlukan fasilitas transaksi yang lebih lengkap di perbankan domestik.
Instrumen Transaksi Yuan yang Tersedia di Perbankan
BI menekankan bahwa bank-bank di Indonesia sekarang sudah memiliki fasilitas transaksi Yuan yang lengkap. Instrumen transaksi dengan Yuan China kini dapat dilakukan secara langsung di perbankan domestik dalam berbagai bentuk:
|
Jenis Instrumen |
Deskripsi |
|
Transaksi tunai/spot |
Pertukaran langsung Yuan dengan Rupiah |
|
Currency swap |
Pertukaran mata uang dengan kesepakatan kembali di masa depan |
|
Transaksi forward |
Kontrak pembelian/jual Yuan untuk penyelesaian |
Operasi Moneter Berbasis Yuan
Sebagai pendukung, BI juga berencana memperluas instrumen operasi moneter valuta asing dengan menambahkan spot dan swap dalam Yuan (CNY) dan Yen Jepang (JPY) terhadap Rupiah. Langkah ini bertujuan untuk:
Mengurangi tekanan pada Rupiah akibat ketergantungan pada dolar AS
Memperkuat instrumen pasar valas domestik
Meningkatkan efektivitas transaksi LCT yang berkembang signifikan
Mendukung stabilitas nilai tukar Rupiah
Dorongan kepada Eksportir
BI juga mendorong eksportir Indonesia untuk mulai menempatkan devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA) menggunakan mata uang non-dolar AS, termasuk Yuan China. Ini merupakan bagian dari strategi untuk mengurangi ketergantungan pada dolar Amerika Serikat dalam transaksi internasional.
Dampak bagi Ekonomi Indonesia
Perluasan penggunaan Yuan dan instrumen LCS diharapkan dapat mendukung stabilitas Rupiah melalui pengurangan ketergantungan pada mata uang tertentu (dolar AS). Kerja sama ini juga mencerminkan penguatan hubungan ekonomi bilateral antara Indonesia dan China sebagai dua ekonomi terbesar di Asia.
Dengan mempermudah transaksi Yuan di perbankan, BI membuka peluang lebih besar bagi pelaku usaha Indonesia untuk bertransaksi langsung dengan mitra China tanpa melalui dolar AS sebagai mata uang perantara, yang pada akhirnya dapat menghemat biaya transaksi dan mempercepat proses perdagangan.

