BPS Catat Inflasi Indonesia Meningkat Jadi 3,08 Persen pada Mei 2026
Indonesia mengalami inflasi 3,08 persen pada Mei 2026 secara tahunan (year-on-year/YoY), naik signifikan dari 2,42 persen pada April 2026. Secara bulanan (month-to-month/MTM), inflasi tercatat 0,28 persen, lebih tinggi dibandingkan 0,13 persen di bulan sebelumnya.
Kenaikan Inflasi Dipicu Ketiga Faktor Utama
|
Faktor Pemicu |
Dampak pada Inflasi |
|
Harga pangan (cabai merah, beras, minyak goreng) |
Lonjakan harga komoditas pangan menjadi pendorong utama inflasi
bulanan |
|
Harga energi & BBM non-subsidi |
Kenaikan harga energi dan transportasi menyumbang inflasi terbesar |
|
Pelemahan rupiah |
Rupiah yang melemah menyebabkan imported inflation – biaya
produksi dan harga impor naik amp. |
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan bahwa selain komoditas yang menekan inflasi, ada pula yang menjadi peredam inflasi seperti daging ayam ras, telur ayam ras, dan bawang putih.
Proyeksi Ekonom dan Rekomendasi Kebijakan
Kepala Ekonom PermataBank, Josua Pardede, sebelumnya memproyeksikan inflasi Mei 2026 berada di level 0,14% MTM, namun realisasinya lebih tinggi di 0,28%. Ia menekankan bahwa "arah inflasi Mei bukan melemah, tetapi sedikit meningkat karena tekanan biaya mulai lebih terasa ke konsumen".
Ekonom menyuarakan wanti-wanti dan menyarankan kolaborasi lintas sektor untuk menstabilkan ekonomi menghadapi risiko inflasi yang bisa naik lebih tinggi. Bank Indonesia mencatat inflasi IHK Mei 2026 tetap terjaga di level tersebut.
Implikasi bagi Konsumen dan Pasar
Inflasi yang meningkat berarti daya beli masyarakat terdampak, terutama untuk:
Kebutuhan pokok (beras, cabai, minyak goreng) yang harganya melonjak
Biaya transportasi dan energi yang semakin memberatkan pengeluaran rumah tangga
Barang impor yang harganya naik akibat pelemahan rupiah
Pemerintah dan Bank Indonesia perlu mengawasi pasokan dan harga komoditas strategis untuk mencegah inflasi melampaui target 2,5±1% yang ditetapkan.

