Mendag Budi Santoso Ajukan Skema Barter dengan Filipina di Tengah Pelemahan Rupiah
Menteri Perdagangan Budi Santoso membuka opsi perdagangan barter dengan Filipina sebagai alternatif transaksi internasional di tengah volatilitas nilai tukar rupiah yang melemah hingga tembus Rp18.000 per dolar AS.
Latar Belakang: Rupiah dan Peso Alami Tekanan
Skema barter ini diusulkan karena kedua mata uang yaitu rupiah dan peso Filipina sama-sama mengalami tekanan terhadap dolar AS. Budi Santoso menjelaskan bahwa opsi barter dipersiapkan untuk:
|
Tujuan |
Penjelasan |
|
Mengurangi risiko kurs |
Menghindari fluktuasi nilai tukar yang merugikan |
|
Kurangi ketergantungan dolar AS |
Alternatif transaksi tanpa menggunakan mata uang Amerika |
|
Perkuat neraca perdagangan |
Meningkatkan kinerja ekspor-impor Indonesia |
|
Manfaatkan peluang bisnis |
Filipina selama ini menjadi importir produk Indonesia |
Progress Kerja Sama
Buyer sudah ditemukan: Kementerian Perdagangan telah mencarikan pembeli yang sesuai dari Filipina
Penandatanganan kontrak: Direncanakan pada 12 Juni 2026 di Jakarta
Status: Sudah memasuki tahap konkret, menunggu keabsahan kontrak kedua belah pihak
Komoditas: Belum diungkapkan secara rinci, akan disampaikan saat penandatanganan kontrak
Konteks Hubungan Dagang RI-Filipina
Indonesia telah membuka 2.400 toko ritel di Filipina hingga Juli 2025, menunjukkan fondasi kerja sama ekonomi yang kuat antara kedua negara. Mendag Budi Santoso juga menyatakan siap memperluas ekspansi ritel ke Bangladesh dan Malaysia menyusul keberhasilan di Filipina.
Langkah barter ini merupakan bagian dari strategi pemerintah diversifikasi metode perdagangan internasional di tengah ketidakstabilan nilai tukar global.

