Aksi Borong Saham BBCA Kian Masif, Dana Asing Kembali Masuk
Pasar modal Indonesia kembali mencatatkan momen penting bagi saham perbankan besar. Investor asing mulai melakukan aksi borong saham BBCA (Bank Central Asia Tbk) secara masif, mengerek harga saham BBCA meloncat signifikan setelah beberapa bulan tertekan aksi jual.
Loncatan ini terutama terjadi pada pertengahan Juni 2026, di mana dana asing masuk dalam jumlah besar dan memicu kenaikan harga saham BBCA hingga lebih dari 10% dalam beberapa hari perdagangan.
Gelombang Beli Investor Asing
| (Foto Saham BBCA dari Google Finansial) |
Investor Institusi Global yang Terlibat
Aksi beli BBCA tidak hanya dilakukan oleh investor asing secara umum, tetapi juga melibatkan sejumlah investor institusi global yang dikenal sebagai long-term investor. Beberapa nama besar yang terpantau ikut membeli BBCA belakangan ini adalah:
Vanguard Group Inc: membeli 118,26 juta saham, sehingga total kepemilikannya bertambah menjadi 2,78 miliar saham.
FIL Ltd: memborong 22,38 juta saham, sehingga total kepemilikannya bertambah menjadi 940,03 juta saham.
Power Corp of Canada: membeli 1,67 juta saham.
SEI Investments Co: membeli 3,4 juta saham.
Dimensional Fund Advisors LP: membeli 14,22 juta saham.
Bank of New York Mellon: mengakumulasi 4,05 juta saham.
Lazard Inc: membeli 5,06 juta saham.
Kehadiran investor institusi seperti ini memperkuat sinyal bahwa BBCA kembali dianggap sebagai aset berkualitas dengan prospek jangka panjang yang menarik.
Dukungan dari Manajemen dan Direksi BCA
Selain aksi beli investor asing, pergerakan positif BBCA juga didukung oleh aksi pembelian dari internal manajemen. Pada awal 2026, jajaran petinggi BCA justru agresif menyerok saham mereka sendiri di tengah fluktuasi pasar, menerapkan strategi buy on weakness — membeli aset premium saat harganya sedang terdiskon.
Beberapa transaksi yang tercatat antara lain:
Hendra Lembong: menambah amunisi secara masif dengan dana hingga Rp 7,93 miliar.
John Kosasih (Wakil Presiden Direktur): pembelian senilai Rp 4,37 miliar pada Maret 2026.
Frenkie Candra Kusuma (Managing Director): mengakumulasi saham senilai Rp 2,87 miliar sejak Maret 2025.
Lianawaty Suwono (Direktur): memborong 300.000 saham senilai Rp 2,1 miliar di akhir Januari 2026, justru saat pasar sedang bergejolak.
Aksi pembelian oleh direksi dan komisaris ini memberikan sinyal kepercayaan yang kuat terhadap prospek perusahaan, sekaligus mendukung harga saham BBCA di pasar.
Implikasi bagi Pasar dan Investor
Aksi borong saham BBCA yang kian masif ini menjadi sinyal penting bagi pasar modal Indonesia. Munculnya kembali kepercayaan investor asing terhadap saham perbankan besar seperti BBCA setelah sebelumnya banyak mengalami aksi jual memberikan dorongan positif bagi IHSG.
Bagi investor retail, kondisi ini dapat menjadi momentum untuk memperhatikan kembali BBCA sebagai salah satu saham blue chip yang masih memiliki daya tarik jangka panjang. Dukungan dari kinerja keuangan perbankan yang solid dan aksi pembelian dari internal manajemen memperkuat pandangan bahwa BBCA tetap relevan dalam portofolio investasi jangka menengah hingga panjang.

