Bank Aladin Syariah Catat Laba Bersih Rp 23,3 Miliar Kuartal I 2026

Bank Aladin Syariah Catat Laba Bersih Rp 23,3 Miliar Kuartal I 2026

PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK) mencatatkan kinerja laba bersih positif pada kuartal I-2026 sebesar Rp23,32 miliar, meskipun turun sekitar 30% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.

Data ini menunjukkan bahwa bank digital syariah tersebut telah berhasil keluar dari fase “bakar uang” dan mulai konsisten menghasilkan laba, meski masih menghadapi tantangan dalam mengelola biaya bagi hasil kepada nasabah.

Kenaikan Pendapatan, Tapi Biaya Bagi Hasil Melonjak

Pada kuartal I-2026, Bank Aladin Syariah mencatatkan pendapatan sebagai mudharib sebesar Rp216,98 miliar, naik 11,4% dari Rp194,71 miliar pada Q1-2025. Namun, hak bagi hasil milik bank justru turun signifikan menjadi Rp24,33 miliar, dari Rp95,65 miliar setahun sebelumnya.

Penurunan laba bersih terutama disebabkan oleh lonjakan biaya bagi hasil kepada nasabah yang hampir dua kali lipat. Akibatnya, laba operasional turun menjadi Rp18,11 miliar dari Rp33,49 miliar, dan laba sebelum beban pajak mencapai Rp20,19 miliar, dibandingkan Rp33,46 miliar di periode sama tahun Lalu. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik tercatat Rp23,32 miliar, turun 30,31% secara tahunan.

Momentum Pertumbuhan dari Kinerja 2025

Penurunan laba di Q1-2026 tidak mengurangi gambaran positif kinerja Bank Aladin Syariah pada tahun buku 2025. Pada tahun tersebut, bank mencatat laba bersih Rp150,7 miliar, naik sangat pesat 304,48% dari tahun sebelumnya.

Kinerja 2025 juga didorong oleh:

Total aset yang tumbuh 53,89% menjadi Rp14,4 triliun.

Dana pihak ketiga (DPK) yang naik hampir 100% mencapai Rp10,4 triliun.

Jumlah nasabah aktif yang mencapai sekitar 3,7 juta, meningkat 12,1% dari tahun sebelumnya.

Pertumbuhan aset dan DPK yang signifikan menunjukkan peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap Bank Aladin Syariah sebagai bank digital syariah yang semakin matang.

Strategi Ekspansi dan Fokus 2026

Bank Aladin Syariah menargetkan ekspansi lebih lanjut pada 2026, dengan fokus pada:

Penguatan segmen ritel dan pembiayaan yang telah tumbuh berkali-kali lipat.

Peningkatan efisiensi operasional lewat integrasi rantai pasok digital.

Konsistensi strategi bisnis yang terbukti mampu menghasilkan laba, meski di Q1-2026 ada penurunan tipis.

Manajemen bank menilai momentum pertumbuhan ekonomi nasional dan digitasi perbankan sebagai penopang bisnis utama di tahun 2026.

Next Post Previous Post