Belarus–Indonesia Kerja Sama Investasi: Langkah Strategis Memperkuat Ekonomi Bilateral

Belarus–Indonesia Kerja Sama Investasi: Langkah Strategis Memperkuat Ekonomi Bilateral

Pemerintah Indonesia dan Belarus resmi memperkuat hubungan kerja sama ekonomi melalui serangkaian penandatanganan komitmen investasi dan industri. 

Langkah ini ditandai dengan pertemuan Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-8 RI–Belarus yang berlangsung di Minsk, Belarus, serta forum bisnis lanjutan di Jakarta. total nilai kerja sama antara pelaku usaha dari kedua negara mencapai sekitar Rp7 triliun, dengan fokus pada sektor pertanian, industri, teknologi, dan ketahanan pangan.

Roadmap Ekonomi 2026–2030

Salah satu hasil utama dari pertemuan bilateral adalah kesepakatan penyusunan roadmap kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Belarus untuk periode 2026–2030. Dokumen ini bertujuan mengarahkan kolaborasi di berbagai bidang strategis, termasuk perdagangan, investasi, industri, teknologi, pertanian, dan kesehatan.

Roadmap tersebut diharapkan menjadi panduan jangka menengah bagi kedua negara dalam meningkatkan efisiensi dan sinergi kerja sama, sekaligus memanfaatkan momentum implementasi Indonesia–Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (Indonesia–EAEU FTA) yang membuka peluang ekspor lebih luas ke wilayah Eurasia.

Penandatanganan MoU dan Nilai Investasi

Dalam forum bisnis Indonesia–Belarus di Jakarta, tercatat penandatanganan lima Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding / MoU) antara pelaku usaha dari kedua negara. Total nilai kesepakatan bisnis yang dituangkan dalam MoU tersebut mencapai sekitar Rp7 triliun.

Beberapa inti kerja sama yang tertuang dalam MoU meliputi:

PT Pupuk Indonesia (Persero) dengan Nedra Nezhin – kerja sama di sektor pupuk dan pertanian.

PT Indonesia Belarus Jaya dengan berbagai perusahaan Belarus, termasuk OJSC Minsk Dairy Plant No. 1, Energi Complekt, OJSC Dolomite, dan Belindo Trade – mencakup industri makanan, energi, bahan bangunan, dan perdagangan.

Selain itu, dalam forum bisnis tanggal 30 Juni 2026, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut bahwa terdapat 17 MoU antara pelaku usaha Indonesia dan Belarus yang ditandatangani dalam business matching.

Peningkatan Perdagangan dan Ekspor

Data perdagangan menunjukkan tren positif dalam hubungan ekonomi Indonesia–Belarus. Nilai perdagangan kedua negara pada 2025 tercatat meningkat sekitar 72,6 persen secara tahunan, mencapai sekitar US$221 juta. Sementara, menurut data Kemenperin, ekspor Indonesia ke Belarus pada 2025 melonjak 225 persen senilai USD 43,6 juta, dan investasi langsung dari Belarus tumbuh 57,2 persen pada 2024.

Airlangga menargetkan bahwa dalam waktu dekat, nilai perdagangan dan investasi antara Indonesia dan Belarus dapat meningkat hingga US$500 juta, dengan dorongan agar produk Indonesia lebih banyak masuk ke pasar Belarus dan negara anggota EAEU lainnya.

Fokus Sektor Kerja Sama

Kerja sama Indonesia–Belarus mencakup berbagai sektor strategis, antara lain:

Industri dan Manufaktur

Kedua negara mendorong pengembangan joint assembly machinery di Indonesia, termasuk perakitan mesin dan alat berat, serta kerja sama di sektor kendaraan listrik dan otomotif.

Pertanian dan Ketahanan Pangan

Kolaborasi meliputi produksi pupuk, teknologi mekanisasi pertanian, dan industri makanan seperti produk susu dan dairy.

Teknologi dan Energi

Kerja sama mencakup pengembangan energi, teknologi industri, dan sumber daya manusia melalui program pelatihan dan pendidikan.

Kawasan Industri dan Infrastruktur

PT Indonesia Belarus Jaya sebagai salah satu aktor utama dalam pengembangan kawasan industri dan infrastruktur yang melibatkan investasi Belarus.

Peran EAEU dan Prospek Masa Depan

Indonesia kini tidak hanya bekerja sama dengan Belarus secara bilateral, tetapi juga memperluas kerja sama melalui kerangka Eurasian Economic Union (EAEU), yang meliputi Armenia, Belarus, Kazakhstan, Kyrgyzstan, dan Rusia. Penandatanganan kerja sama dengan anggota EAEU ini memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra strategis di wilayah Eurasia.

Airlangga menyatakan bahwa beberapa instrumen kerja sama, khususnya dengan Rusia dan Belarus, masih dalam tahap ratifikasi. Namun, ia berharap implementasi penuh dapat segera terealisasi, sehingga mendorong peningkatan ekspor, investasi, dan integrasi rantai pasok industri antara Indonesia dan negara-negara EAEU.

Next Post Previous Post