FORU Siapkan Right Issue Rp27,1 Triliun, Intip Profil Emiten, Lini Usaha, dan Kinerjanya

 

FORU Siapkan Right Issue Rp27,1 Triliun, Intip Profil Emiten, Lini Usaha, dan Kinerjanya

PT Fortune Indonesia Tbk (FORU) tengah menyiapkan aksi korporasi besar melalui rights issue dengan potensi dana hingga Rp27,1 triliun. Dana ini akan dipakai untuk transformasi bisnis, terutama masuk ke sektor pertambangan batu bara kokas melalui akuisisi saham PT Borneo Prima.

Rencana aksi korporasi

FORU berencana menerbitkan maksimal 215,09 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp126 per saham. Jika seluruh saham terserap, perseroan berpotensi meraup sekitar Rp27,1 triliun.

Sebagian besar dana, sekitar Rp20,82 triliun, akan digunakan untuk memperoleh 49% saham Borneo Prima milik IMR Asia Holding Pte. Ltd. melalui mekanisme inbreng. Sisa dana tunai dari porsi publik, maksimal sekitar Rp6,28 triliun, akan disalurkan sebagai pinjaman modal kerja kepada Borneo Prima.

Profil singkat FORU

Sebelum rencana transformasi ini, FORU dikenal sebagai PT Fortune Indonesia Tbk, emiten yang kini mengarah menjadi perusahaan induk berbasis pertambangan batu bara kokas. Langkah ini menandai perubahan besar dari bisnis sebelumnya menuju sektor sumber daya alam.

Lini usaha baru

Fokus baru FORU adalah batu bara kokas atau coking coal, komoditas yang banyak dipakai dalam industri baja. Akuisisi Borneo Prima menjadi pintu masuk utama FORU untuk membangun posisi di bisnis tambang tersebut.

Kinerja dan prospek

Pasar menyoroti aksi ini karena berpotensi mengubah skala bisnis FORU secara signifikan. Beberapa laporan menyebut akuisisi Borneo Prima dapat mendorong pendapatan FORU naik berlipat, seiring masuknya aset tambang dan cadangan batu bara kokas ke dalam grup.

Berdasarkan laporan yang dikutip media, Borneo Prima memiliki cadangan terbukti 42,4 juta ton dan cadangan terkira 45,3 juta ton. Aset cadangan ini menjadi alasan utama FORU dianggap sedang menyiapkan transformasi bisnis yang agresif.

Catatan investor

Rights issue jumbo seperti ini biasanya membawa dua sisi: peluang pertumbuhan yang besar, tetapi juga risiko dilusi yang tinggi bagi pemegang saham lama. Dalam kasus FORU, besarnya saham baru membuat struktur kepemilikan berpotensi berubah drastis setelah aksi korporasi selesai.

Next Post Previous Post