Indeks Kospi Melonjak 17,9 Persen Dipicu Optimisme AI dan Saham Teknologi
Pasar saham Asia menguat signifikan pada perdagangan Jumat, 31 Juli 2026. Indeks Kospi Korea Selatan menjadi sorotan utama setelah melonjak 17,9 persen ke level 6.695,45, mencatat kenaikan harian terbesar sepanjang sejarah bursa tersebut.
Lonjakan tajam ini terjadi di tengah kembali membaiknya sentimen investor terhadap saham-saham teknologi dan kecerdasan buatan (AI), menyusul laporan kinerja keuangan Microsoft dan Amazon yang melampaui ekspektasi pasar. Optimisme itu memicu aksi beli besar-besaran pada saham-saham semikonduktor, terutama Samsung Electronics dan SK Hynix.
Kospi Pecahkan Rekor Kenaikan Harian
| (Foto Index KOSPI dari Google Finansial) |
Sentimen Didukung Langkah Regulator
Penguatan pasar Korea Selatan juga ditopang oleh langkah regulator setempat yang mengumumkan kebijakan untuk meredam aksi jual besar-besaran yang sempat mengguncang pasar sepanjang pekan ini, menurut laporan BBC.
Meski melonjak hampir 18 persen, Kospi masih berada jauh di bawah rekor tertinggi sekitar 9.000 yang sempat dicapai pada Juni 2026. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar saham Korea Selatan masih sangat volatil, terutama karena tingginya partisipasi investor ritel.
Sepanjang tahun ini, mekanisme circuit breaker bahkan beberapa kali diaktifkan untuk meredam kepanikan pasar.
Bursa Asia Lain Ikut Menguat
Penguatan tidak hanya terjadi di Korea Selatan. Bursa saham Asia lainnya juga mencatat kenaikan cukup solid. Indeks Nikkei 225 Jepang naik 4 persen, didorong lonjakan saham SoftBank Group dan Tokyo Electron.
Di Taiwan, indeks Taiex melonjak 8 persen, dengan saham TSMC menguat 10 persen. Sementara itu, pasar saham Australia hanya naik tipis 0,1 persen.
Meski demikian, pergerakan bursa China terbilang beragam. Indeks Hang Seng Hong Kong turun 0,3 persen, sedangkan Indeks Komposit Shanghai naik 0,9 persen. Aktivitas manufaktur China juga kembali mengalami kontraksi pada Juli, menjadi kontraksi pertama dalam lima bulan, akibat lemahnya permintaan domestik dan dampak topan.
Ekonomi China dan Yen Jadi Sorotan
Dari sisi makroekonomi, pertumbuhan ekonomi China pada kuartal II 2026 tercatat sebesar 4,3 persen, menjadi laju pertumbuhan paling lambat dalam lebih dari tiga tahun. Pertemuan Politbiro Partai Komunis China juga belum menghasilkan kebijakan ekonomi baru yang signifikan, sehingga belum mampu memberi dorongan tambahan bagi pasar.
Di pasar valuta asing, dolar AS sempat melemah tajam terhadap yen setelah muncul dugaan intervensi dari otoritas Jepang dan Amerika Serikat untuk menopang mata uang Jepang. Namun pada Jumat pagi, dolar kembali menguat 0,6 persen ke level 160,53 yen setelah sebelumnya turun lebih dari 2,4 persen.
Jonas Golterman dari Capital Economics menilai intervensi untuk mendukung yen kemungkinan tidak akan lebih efektif dari sebelumnya. Meski begitu, ia melihat otoritas Jepang tampak cukup gigih menjaga stabilitas mata uang. “Yen akan tetap berada di sekitar level 160 tahun ini sebelum pulih lebih berkelanjutan tahun depan,” ujarnya.
Bank of Japan sendiri mempertahankan suku bunga acuan sesuai ekspektasi pasar, sehingga keputusan tersebut tidak memicu kejutan besar di pasar.
Secara keseluruhan, penguatan pasar saham Asia pada Jumat ini didorong oleh kombinasi faktor: optimisme terhadap sektor AI, lonjakan saham semikonduktor, langkah regulator Korea Selatan, serta pergerakan mata uang yang masih dinamis.
Lonjakan Kospi menjadi simbol kembalinya minat investor terhadap saham teknologi, meski volatilitas pasar Asia masih tinggi dan sentimen global tetap rentan berubah cepat.

