KAI Hemat Ratusan Juta Rupiah Lewat Boarding Face Recognition

KAI Hemat Ratusan Juta Rupiah Lewat Boarding Face Recognition

PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat sebanyak 5,55 juta penumpang telah memanfaatkan layanan Face Recognition Boarding Gate sepanjang semester I-2026. Angka ini menunjukkan peningkatan 53.978 pengguna dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya, yaitu 5,5 juta penumpang.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan kenaikan tersebut menggambarkan tingginya tingkat adopsi teknologi digital oleh masyarakat saat melakukan boarding di stasiun-stasiun kereta api. “Masyarakat kini semakin nyaman menggunakan teknologi biometrik untuk mempercepat proses boarding,” ujarnya.

Face Recognition Boarding Gate memudahkan proses keberangkatan karena penumpang yang sudah terdaftar hanya perlu memindai wajah tanpa harus mencetak boarding pass fisik. Dengan pengurangan kebutuhan interaksi manual dan dokumen fisik, proses boarding menjadi lebih praktis dan cepat serta mengurangi antrean di loket.

Dampak lingkungan dan efisiensi operasional

Digitalisasi proses boarding juga membawa manfaat nyata bagi efisiensi operasional PT KAI. Selama Januari-Juni 2026, penerapan sistem pemindaian wajah berhasil memangkas penggunaan sekitar 13.888 rol kertas boarding pass. Pengurangan pemakaian kertas ini setara dengan penghematan anggaran operasional perusahaan hingga Rp 203,8 juta.

Selain nilai ekonomis, pemangkasan kertas tersebut berdampak pada aspek lingkungan. Total bobot kertas yang berhasil dihemat mencapai sekitar 4,4 ton, setara dengan bahan baku yang dihasilkan dari sekitar 75 pohon. KAI menegaskan bahwa teknologi pemindaian wajah ini selaras dengan prinsip operasional perusahaan yang menerapkan layanan ramah lingkungan.

Adopsi teknologi dan rencana ke depan

Penerimaan positif dari penumpang mendorong KAI untuk terus memperluas dan menyempurnakan layanan digitalnya. Integrasi biometrik pada boarding gate membuat proses perjalanan antar-stasiun lebih lancar sekaligus menurunkan beban operasional di loket. Ke depan, perusahaan dapat mempertimbangkan peningkatan kapasitas sistem, perluasan cakupan stasiun, serta penguatan edukasi kepada penumpang agar lebih banyak pengguna mendaftar layanan ini.

Meski demikian, adopsi teknologi biometrik juga memunculkan tantangan, terutama terkait privasi data dan keamanan informasi. Untuk itu, penting bagi operator untuk menjamin perlindungan data penumpang melalui kebijakan penyimpanan dan enkripsi yang kuat serta transparansi penggunaan data.

Next Post Previous Post