Kementan Beli Benih Jagung ITS Rp10 Miliar, Dorong Swasembada

Kementan Beli Benih Jagung ITS Rp10 Miliar, Dorong Swasembada

Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan dana hingga Rp10 miliar untuk membeli benih jagung hibrida hasil inovasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Pembelian ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan tanam seluas 13.000 hektare dan akan dibagikan gratis kepada petani.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut langkah ini sebagai bentuk apresiasi terhadap karya anak bangsa yang dinilai punya daya saing tinggi. Ia menegaskan bahwa produktivitas benih unggul ITS berada di atas rata-rata nasional.

Produksi Di Atas Rata-rata

Benih jagung hibrida yang dibeli Kementan disebut mampu menghasilkan sekitar 10 ton pipilan jagung per hektare. Angka ini melampaui rata-rata produksi nasional yang pada 2024 tercatat sekitar 5,94 ton per hektare.

Amran mengatakan peningkatan produksi jagung bisa dicapai tanpa perlu menambah lahan, selama benih unggul dikombinasikan dengan teknologi budidaya modern. Menurutnya, pendekatan ini juga sejalan dengan kebutuhan peningkatan efisiensi sektor pertanian nasional.

Dukungan untuk Hilirisasi Riset

Pembelian langsung oleh pemerintah ini menjadi contoh nyata dorongan agar hasil riset perguruan tinggi tidak berhenti di laboratorium. Kementan ingin inovasi kampus benar-benar masuk ke lapangan dan memberi manfaat langsung kepada petani.

Selain benih jagung, Kementan juga memesan teknologi pertanian lain buatan akademisi ITS, termasuk traktor amfibi untuk lahan kering dan rawa serta alat pemanjat pohon kelapa. Langkah ini memperlihatkan bahwa pemerintah mulai memberi ruang lebih besar bagi produk inovasi lokal.

Arahan Pemerintah

Amran menyebut kebijakan ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto agar instansi pemerintah memprioritaskan produk inovasi hasil karya anak bangsa, terutama dari perguruan tinggi. Ia menilai sinergi antara riset kampus dan kebutuhan negara perlu diperkuat agar inovasi tidak berhenti sebagai konsep.

Pemerintah optimistis penggunaan benih berkualitas dan teknologi pertanian modern dapat mendorong produksi jagung nasional secara signifikan. Jika model ini berhasil, pola serupa bisa diterapkan pada komoditas lain seperti padi dan kelapa.

Dampak bagi Petani

Bagi petani, kebijakan ini berpotensi membuka akses pada benih unggul yang sebelumnya mungkin sulit dijangkau. Jika distribusi berjalan baik, petani dapat menikmati peningkatan hasil panen sekaligus efisiensi biaya produksi.

Di sisi lain, pembelian ini juga mengirim sinyal bahwa riset perguruan tinggi memiliki peluang besar untuk menjadi solusi praktis di sektor pangan. Model kemitraan seperti ini bisa menjadi contoh penguatan ekosistem inovasi nasional.

 

Next Post Previous Post