Kilang Pertamina Mampu Olah Minyak Mentah Rusia Jenis ESPO
PT Pertamina (Persero) dinilai mampu mengolah minyak mentah asal Rusia jenis Eastern Siberia Pacific Ocean (ESPO) di sejumlah fasilitas kilang nasional dengan penyesuaian operasional, bukan investasi besar untuk modifikasi peralatan. Pernyataan tersebut mengutip penjelasan pakar energi Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, kepada media, Rabu (22/7/2026).
ESPO, varian minyak mentah dari Rusia Timur yang dialirkan ke kawasan Asia Pasifik, memiliki karakter light sweet dengan API gravity sekitar 34°–35° dan kandungan sulfur sekitar 0,58%–0,65%, menurut catatan S&P Global Energy. Kandungan sulfur yang sedikit lebih tinggi dibanding mayoritas minyak domestik membuat kilang perlu melakukan penyesuaian parameter operasi, terutama pada unit hydrodesulfurization (HDS), sistem desalting, serta pengaturan fraksinasi agar produk akhir memenuhi standar Euro IV atau Euro V.
Yayan memaparkan bahwa penyesuaian teknis meliputi peningkatan suhu operasi reaktor HDS sebesar sekitar 5°C–12°C, kenaikan tekanan parsial hidrogen, serta optimisasi rasio hidrogen terhadap minyak. Pengolahan ESPO murni tanpa pencampuran berpotensi mempercepat penurunan umur pakai katalis sebesar 5%–8%, sehingga pemantauan laju deaktivasi katalis menjadi penting.
Beberapa kilang nasional diidentifikasi sudah siap memproses pasokan ESPO. Kilang Balikpapan dengan kapasitas 360.000 barel per hari (bph) disebut memiliki dukungan unit Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) dan fasilitas hydroprocessing yang fleksibel.
Kilang Cilacap (348.000 bph) dilengkapi dua unit distilasi, high vacuum unit (HVU), residual catalytic cracking (RCC), dan hydrocracker unit (HCU), sehingga memungkinkan pengolahan langsung ESPO. Kilang Balongan (125.000 bph) tercatat memiliki Nelson Complexity Index sekitar 11,9, tertinggi di Indonesia, serta unit Atmospheric Residue Hydrodemetallization (ARHDM) yang mampu menangani minyak lebih berat.
Selain pemrosesan langsung, skema co-blending menjadi alternatif bagi kilang dengan batasan teknis. Kilang Dumai dan Plaju disebut dapat menerima ESPO melalui pencampuran 20%–40% dengan kondensat domestik yang lebih ringan sebelum masuk unit pengolahan.
Pemerintah dan Pertamina juga menyiapkan aspek logistik dan penyimpanan. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyatakan impor yang dikelola Lemigas ditempatkan ke tangki penyimpanan sebagai cadangan penyangga energi (CPE) melalui skema Indonesia Blend atau Nusantara Blending. Catatan pelacakan perdagangan menunjukkan pengiriman ESPO masuk ke Pelabuhan Lawe-Lawe, Kalimantan Timur menggunakan kapal tanker Sierra dengan volume sekitar 770.000 barel pada 29 Juni 2026.
Pelabuhan Lawe-Lawe menjadi pintu masuk strategis bagi pasokan ke Kilang Balikpapan, didukung dua tangki penyimpanan berkapasitas 1 juta barel masing-masing dan fasilitas single point mooring (SPM).
Operasional pengolahan di bawah subholding Pertamina Patra Niaga mencakup enam kilang aktif yang total kapasitasnya mencapai sekitar 1 juta bph: RU II Dumai, RU III Plaju, RU IV Cilacap, RU V Balikpapan, RU VI Balongan, dan RU VII Kasim.
Pertamina menegaskan penyesuaian operasi, bukan belanja modal besar, menjadi kunci pemanfaatan pasokan ESPO untuk memperkuat ketersediaan bahan bakar dalam negeri.

